TANJUNG REDEB – Masyarakat Dayak bersama dengan Ikatan Kerukunan Masyarakat Nusa Tenggara Timur menggelar rekonsiliasi, kemarin (31/7).
Ketua Lembaga Adat Dayak Besar Kabupaten Berau, Jiang Bith mengatakan, rekonsiliasi ini digelar agar tidak ada lagi selisih paham antar kedua belah pihak.
“Ini kami gelar agar semua suku yang ada di Berau bisa bersatu untuk membangun Bumi Batiwakkal- sebutan Kabupaten Berau,” ujarnya kepada Berau Post usai kegiatan, kemarin.
Ia menginginkan, Berau ini bisa aman dan kondusif, supaya peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu, tidak lagi terulang dan masyarakat yang ada di Berau bisa saling membantu dan rukun.
“Khususnya kami (Adat Dayak, red) sangat menghargai suku-suku yang ada di seluruh Kalimantan, khususnya Kabupaten Berau. Adanya kegiatan ini kami berharap jangan ada yang saling menindih dan lain sebagainya,” harapnya.
Dirinya menginginkan seluruh paguyuban yang ada di Berau, bisa kompak dan menjalin silaturahmi secara rutin. Sebab, hal sangat dibutuhkan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bisa cepat terselesaikan secara kekeluargaan.
“Komunikasi itu paling penting, saya ingin ada pertemuan antar paguyuban di Berau. Paling tidak tiga bulan sekali, jangan jika sudah terjadi masalah baru ada pertemuan,” pintanya.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau agar bisa memfasilitasi seluruh paguyuban yang ada. Supaya bisa melakukan pertemuan paling tidak tiga bulan sekali. “Karena kami ingin semua suku yang ada di Berau saling menjaga dan terus rukun,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Komandan Pertahanan Adat Dayak Kalimantan (KPADK) Berau, Mikael Sengiang menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk ‘meredam’ terjadinya permasalahan yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Karena tidak bisa kami mungkiri dari kasus beberapa waktu lalu, antara dua belah pihak memanas. Adanya rekonsiliasi ini kami berharap permasalahan yang sudah lewat tidak meluas,” harapnya.
Ia pun menjelaskan, lewat rekonsiliasi ini masyarakat Dayak dan NTT bisa kembali berbaur bermasyarakat, tanpa ada rasa dendam ataupun hal-hal yang dapat memicu terjadinya permasalahan.
“Pihak keluarga pun sudah menyatakan bahwa ini sudah selesai, sehingga kami berharap agar hal seperti ini tidak lagi terulang,” tegasnya.
Di lokasi yang sama, Ketua Ikatan Kerukunan Masyarakat Nusa Tenggara Timur, Berau, Agustinus Kadu Roman mengatakan, pihaknya telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu. Pihaknya pun mengakui, telah mengutuk keras perbuatan yang dilakukan oleh warganya tersebut.
“Kami sampaikan permohonan maaf kami kepada pihak keluarga korban dan masyarakat Dayak,” sebutnya.
Dirinya mengaku dalam persoalan ini, pihaknya telah melaksanakan rekonsiliasi secara adat. Dengan menyerahkan benda adat berupa mandau dan uang tunai ke keluarga korban.
“Sesuai dengan aturan adat. Maka, kami melaksanakannya. Dengan harapan, ini menjadi pembelajaran dan tidak terulang lagi di kemudian hari,” tandasnya. (aky/arp)