BATU PUTIH – Sempat memakan korban karena salah satu pengunjung yang tenggelam dan meninggal dunia. Telaga Biru di Kampung Tembudan yang sempat ditutup satu bulan lebih, kembali dibuka untuk umum.
Direktur Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Rindang Jaya, Arief Swasono menjelaskan, tempat rekreasi tersebut telah dibuka kembali setelah ditutup cukup lama. Tentunya, evaluasi telah dilakukan, agar peristiwa beberapa waktu lalu tak lagi terulang.
Pihaknya kini telah memperketat pengawasan dan merombak Standar Operasional Prosedur (SOP) sebelumnya. “Berubahnya beberapa SOP itu, juga menjadi musyawarah bersama, dan tak meninggalkan adat istiadat yang berlaku di kampung dan saat ini, ada batasan untuk berenang,” ujarnya kepada awak media ini.
Menurutnya, khusus untuk daerah wahana pun, saat ini para wisatawannya harus menggunakan life jacket atau pelampung. Hal tersebut dilakukan untuk menekan terjadinya hal yang tidak diinginkan.
“Jika ingin melihat keindahan telaga biru, dapat menggunakan sarana wahana yang tersedia,” bebernya.
Kemudian untuk jarak wilayah yang dapat digunakan untuk berenang, menurutnya hanya berkisar dua meter ke bawah. “Tidak boleh lebih dari itu dan masih boleh berenang, tapi tidak boleh di tempat yang dalam,” ungkapnya.
Saat ini, pihaknya juga masih mendiskusikan secara bersama, terkait pemberian asuransi kepada para wisatawan. “Namun, belum menemukan titik temu. Adapun retribusi masuk ke wisata telaga biru yakni sebesar Rp 10 ribu per tiket,” imbuhnya.
Sebab kata dia, jika ada asuransi, bisa jadi harga itu berubah namun tidak mematok harga yang tinggi atau memberatkan wisatawan. “Kami ada rencana untuk memberikan merchandise kepada pengunjung jika nanti asuransi diterapkan. Tapi ini masih rancangan atau wacana kami saja,” ungkapnya.
Arief mengakui, masyarakat sering kali menyangkutpautkan masalah mistis dengan adanya insiden beberapa waktu lalu. Namun pihaknya tetap optimis, wisata Telaga Biru masih terus menjadi objek pilihan wisatawan.
“Kalau dilihat dari 14 hari terakhir, pemasukan sudah mencapai kurang lebih Rp 18 juta. Karena kami optimis dapat menghasilkan Rp 20 juta per bulan,” tuturnya.
Pihaknya akan menjadikan pembelajaran dan akan terus berbenah. Saat ini usulan untuk penataan kawasan kafe, penambahan toilet dan ruang ganti pakaian juga sudah masuk usulan.
“Semoga saja dengan merombak SOP dan pengetatan aturan ini bisa menekan terjadinya hal-hal yang tidak kami inginkan,” harapnya. (aky/arp)