TANJUNG REDEB - Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, menyebut akan membentuk tim yang nantinya akan melakukan penutupan Danau Pulau Kakaban usai menerima laporan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) tentang kondisi danau yang ditempati ubur-ubur tanpa sengat itu.
Hal itu diutarakannya, menyusul adanya laporan yang pihaknya terima dari salah satu lembaga tentang kondisi danau, dimana sempat diketahui ubur-ubur di sana sempat tak terlihat di dekat dermaga yang dibuat.
“Ya kita lagi bentuk tim, kemarin saya masih tunggu surat dari WALHI, kita sudah rapat dengan WALHI juga. Ini dilakukan agar ekosistem yang ada bisa kembali pulih. Saya sudah bilang dengan bupati, dengan rendah hati tolong tutup dulu deh sekarang,” ujarnya usai menghadiri Rakornas Bapemperda di SM Tower, Selasa (23/7).
Dirinya menilai, saat ini Danau Pulau Kakaban memiliki 2 pintu masuk. Digambarkan, dengan 1 pintu masuk sebelumnya saja telah menghasilkan kejadian yang cukup luar biasa hingga ubur-ubur menghilang dari permukaan Danau Pulau Kakaban.
“Bayangkan, 1 pintu masuk saja rusaknya begitu, apalagi 2. Kita minta tutup 1 pintu masuk, dan satunya dikontrol ketat,” paparnya.
Akmal mengatakan, laporan yang diterima, di antaranya adalah keberadaan ubur-ubur yang sudah hilang, dan banyak mengendap ke bawah lantaran merasa tidak aman. Selain itu, permasalahan sampah juga menjadi bagian dari laporan yang dia terima. “Itu aset kita loh, hanya 3 di dunia,” tegasnya.
Menurut Akmal, jangan hanya karena ingin memuaskan keinginan, tetapi justru melakukan kerusakan yang mengancam aset berharga Danau Pulau Kakaban.
“Silakan datang tapi dengan cara bertanggung jawab, kita tidak larang selama ada pengorganisasian yang baik,” ungkapnya.
Disinggung apakah hal ini lantaran terjadi karena adanya kelalaian dari Pemerintah Kabupaten Berau? Akmal membantah seketika. Hal ini dibebankannya pada kesadaran seluruh pihak yang dinilai kurang. “Ini tidak ada kelalaian (pemerintah, red) daerah, ini soal prosedur, bukan soal daerah, ini permasalahan kesadaran kita bersama,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir, menegaskan, sejatinya Pemerintah Kabupaten Berau dengan sigap beberapa waktu lalu memang sudah sesegera mungkin melakukan penutupan dan pembatasan area Danau Pulau Kakaban untuk kunjungan wisatawan usai mendapatkan informasi hilangnya ubur-ubur di Danau Pulau Kakaban.
“Sudah dari sebelumnya ditutup,” tegas Ilyas dengan singkat saat dikonfirmasi kemarin.
Sehingga, dirinya sempat juga menginstruksikan penutupan Danau Pulau Kakaban bahkan memalang pintu masuk sehingga tidak ada turis yang datang. Bahkan dalam kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, serta Ketua TP-PKK RI saat berkunjung ke Berau beberapa waktu lalu tidak diperkenankan untuk berenang dan menikmati Danau Pulau Kakaban, hanya sekadar masuk dan melihat sebagai bagian dari kunjungan kerja.
“Padahal Menparekraf kemarin ingin berenang, namun kita larang. Akhirnya hanya meninjau saja dan melihat-lihat,” terangnya.
Terkait pintu masuk sendiri, peresmian jalur traking baru di Danau Pulau Kakaban ditekankannya bukannya menambah jalur masuk. Itu memang sengaja dibangun, karena akan menutup jalur masuk lama, sehingga seluruh kegiatan melalui jalur baru. Jalur traking terbaru sendiri memiliki panjang lintasan sekitar 400 meter, dan memiliki kontur geografis yang lebih landai.
“Bahkan kita bangunkan 2 toilet di sana, harapannya kalau sudah bisa dibuka, dijaga ketat wisatawan yang mau masuk harus bilas dahulu,” jelasnya.
Dengan adanya rencana pembentukan Tim Khusus sendiri, Ilyas menyambut baik perhatian Pemprov Kaltim untuk membantu menjaga aset 'mahal' itu. “Saya setuju saja untuk menjaga jumlah yang masuk nanti,” ujarnya.
Terpisah, Bupati Berau, Sri Juniarsih, juga menuturkan bahwa sejatinya penutupan Danau Pulau Kakaban sudah dilakukan sejak lama, setidaknya sejak pertengahan Desember 2023 lalu. “Sudah lama itu (ditutup), sudah lama,” tegasnya.
Penutupan itu dengan cepat dilakukan karena hilangnya secara mendadak dan bersamaan seluruh ubur-ubur di Danau Pulau Kakaban. Bahkan beberapa peneliti telah datang untuk memeriksa dan memastikan penyebabnya.
“Itu karena juga masa pemulihan, makanya kita tutup,” ujarnya. (sen/sam)