Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Selamatkan Kebudayaan Lisan lewat Tulisan

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Senin, 1 Juli 2024 | 13:00 WIB
KEBUDAYAAN: Saprudin Ithur menunjukkan buku-buku yang ditulisnya sejak pensiun 2018 silam.
KEBUDAYAAN: Saprudin Ithur menunjukkan buku-buku yang ditulisnya sejak pensiun 2018 silam.

TANJUNG REDEB – Berbagai cara dilakukan untuk mendokumentasikan sebuah kebudayaan. Salah satunya lewat buku.

Saprudin Ithur merupakan salah satu penulis Berau yang rutin menulis buku mengenai kebudayaan Berau. Buku-buku tersebut merupakan kumpulan cerita rakyat yang biasa diceritakan secara lisan oleh para orang tua di bumi Banua. Baik itu dari suku Berau, Dayak Ga’ai, Dayak Punan, hingga Dayak Kenyah.

Selain cerita rakyat, terdapat pula buku-buku mengenai tradisi hingga syair khas orang Banua. Syair Badiwa namanya. Syair asli orang-orang suku Berau di wilayah Bebanir Bangun. Bahkan baru-baru ini, Saprudin baru saja menerbitkan satu lagi buku antologi cerita rakyat dengan tiga bahasa.

“Yang terakhir ini buku saya menggunakan tiga bahasa, Bahasa Berau, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris,” ujarnya saat disambangi ke kediamannya di Jalan Durian III, Tanjung Redeb, Sabtu (29/6) lalu.

Ia mulai mendokumentasikan bentuk-bentuk kebudayaan lisan ke dalam tulisan sejak dirinya pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) pada 2018 lalu.

Pekerjaannya di Disbudpar membawanya ke banyak tempat yang menyimpan berbagai kebudayaan lisan.

“Saya sudah banyak jalan ke mana-mana selama di Disbudpar, banyak catatan yang saya rekam dan saya foto. Dari situ saya ceritakan kembali lewat tulisan, terutama tradisi lisan, seperti legenda, cerita rakyat, dan nyanyian rakyat,” ungkapnya.

Saprudin mengaku banyak mendapat cerita dari para ketua adat, kepala kampung, dan tokoh masyarakat. Mulai dari cerita-cerita legenda hingga syair-syair. Dari potongan-potongan cerita yang dikumpulkan, kemudian diolah menjadi suatu kisah yang utuh.

Saprudin turut menceritakan pengalamannya selama mengolah cerita. Mendatangi berbagai narasumber tambahan, hingga mendatangi pedalaman-pedalaman untuk mendapatkan gambaran latar dari cerita.

“Latar kampung aslinya tetap ada, nilai budayanya tetap ada,” kata Saprudin.

Sementara itu, untuk tradisi lisan lain seperti syair dan nyanyian rakyat, Saprudin biasanya mendatangi langsung orang yang bisa dan paham akan nyanyian rakyat tersebut.

Orang-orang yang mengerti tentang nyanyian rakyat, biasanya sudah sepuh dan tidak lancar berbahasa Indonesia. Para maestro itu menggunakan bahasa Berau zaman dulu yang sudah jarang digunakan.

“Kalau Bahasa Berau-nya rumit, saya minta orang lain untuk terjemahkan dulu. Saya tulis rekaman syairnya, terjemahan Berau yang bisa dipahami, lalu bahasa Indonesianya,” ungkap Saprudin saat menceritakan prosesnya menyusun buku Syair Badiwa.

Saprudin turut menceritakan kisah yang tertuang di dalam Syair Badiwa tersebut. Selama prosesnya mendokumentasikan tradisi lisan lewat tulisan, ia mengaku terkesan dengan masyarakat yang menyambut baik dirinya.

“Bagian silaturahmi itu paling berkesan, mereka senang didatangi, saya juga senang ngobrol-ngobrol dan minum bersama,” ujarnya.

Selain menulis buku, dirinya juga turut membagikan tulisannya melalui laman blog pribadi dan menyebarkan rekaman video melalui media sosial. Hal ini ia lakukan karena ingin mengangkat nilai-nilai budaya dan sejarah, sekaligus menyelamatkan tradisi lisan yang tersisa.

“Paling tidak ada upaya untuk menuliskan, melestarikan, memperkenalkan, itu juga bagian dari upaya menyelamatkan tradisi lisan. Jadi, beberapa tahun ke depan kalau ada yang mau menelusuri untuk meneliti, bisa terbantu juga,” ujarnya.

Saprudin menyayangkan beberapa kebudayaan lisan yang tidak bisa ditemukan untuk didokumentasikan, karena para pelakunya sudah tiada. Terlebih nyanyian rakyat. Namun, Saprudin melihat era digital sebagai peluang untuk menyelamatkan tradisi lisan. Karena setiap orang tentu punya gaya yang berbeda dalam upaya pelestarian tidak hanya melalui tulisan.

“Anak muda punya gaya yang berbeda-beda, dengan gaya yang berbeda dalam mengangkat tradisi, barangkali tidak hanya menjaga, tetapi bisa juga mendatangkan banyak peneliti, wisatawan, hingga penulis-penulis nasional untuk mengangkat budaya kita,” tutupnya. (ner/arp) 

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#lisan #kebudayaan #buku