Pelaksanaan Festival Budaya Bekudung Betiung di Kampung Tumbit Dayak, Sambaliung, tahun ini begitu meriah. Pelaksanaan kali ini lebih matang dari segi persiapan dan penataan acara.
DIMULAI ketika wisatawan selesai melintasi Jembatan Kampung Tumbit Dayak, di pintu masuk puluhan penari hudoq berjejer menyambut wisatawan.
Jejeran penari hudoq yang khas itu menyambut kedatangan rombongan bupati Berau yang turut serta dalam kegiatan kemarin (26/6). Sehingga bagi wisatawan yang datang di saat yang tepat, hal itu jadi kenangan tersendiri.
Prosesi dimulai ketika rombongan sampai, para tamu akan melakukan prosesi injak parang. Hal itu dimaknai sebuah prosesi yang didalamnya tersimpan harapan para tamu yang hadir selalu dalam lindungan, dan tidak berkurang satu apapun selama mengikuti acara ini.
Selesai prosesi injak parang, rombongan diarahkan mendatangi 'Rumah Tua', istilah yang digunakan masyarakat Tumbit Dayak terhadap sebuah rumah yang disakralkan hingga hari ini.
“Setelah itu kami melihat kegiatan Paheb bersama rombongan sebagai ciri khas suku Dayak Ga’ai kami,” ujar Kepala Adat Kampung Tumbit Dayak, Muksin.
Paheb merupakan kegiatan mengukir ukiran khas suku dayak, khususnya sub suku Dayak Ga’ai. Kunjungan itu dilakukan sebagai bentuk mendukung dan upaya pelestarian ukiran khas dayak di zaman modern ini.
Setelah penyambutan, masuklah pada rangkaian inti sebagaimana namanya Bekudung Betiung.
Prosesi pertama adalah Betiung, yang punya makna sebagai proses pendewasaan seorang anak laki-laki yang dinyatakan telah dewasa dan siap untuk menikah.
Betiung adalah bahasa Berau, terjemahan dari bahasa Ga’ai yang berasal dari kata Lamko, artinya pendewasaan anak laki-laki.
Prosesi Betiung begitu diminati masyarakat, penonton berkumpul di lapangan belakang balai adat, menyaksikan kedatangan rombongan laki-laki suku Dayak Ga’ai. Dimana mereka datang dan pulang membawa kepala manusia, tanda keberhasilan kedewasaan seorang lelaki di Suku Dayak Ga’ai. “Kalau mereka pulang dari Betiung tidak bawa hasil, maka dianggap gagal,” terangnya.
Prosesi Betiung yang berlangsung selama kurang lebih 20 menit itu menggambarkan ketangkasan seorang laki-laki suku Dayak Ga’ai, yang berhasil membawa kepala manusia tanda ia telah dewasa.
Kemudian dilanjut dengan prosesi Bekudung. Bekudung dalam bahasa Berau, berasal dari bahasa Dayak Ga’ai yakni Plie Ngak Tam, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah pesta syukuran setelah panen. Maknanya adalah menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perolehan kesehatan, keselamatan dalam bekerja. Mulai menabur benih hingga memanen.
Menurut penuturan Muksin, pelaksanaan Bekudung sebagai awal memulai musim panen. Sehingga masyarakat baru bisa memotong atau panen setelah melakukan prosesi Bekudung.
Ketika prosesi Bekudung dilaksanakan, ada dentuman bambu yang memiliki alunan yang rapi. Dikatakan, pukulan-pukulan itu jadi suara penyemangat masyarakat merayakan panen usai prosesi Bekudung.
“Kalau belum Bekudung, istilahnya belum bisa dipotong hasil panen itu,” paparnya.
Prosesi terakhir sebenarnya adalah sebuah pertunjukan yang ditampilkan oleh 3 hingga 4 orang pria Suku Dayak Ga’ai. Dimana sebagian bersiap di atas pohon yang tingginya sekitar 15 hingga 20 meter, dan dikaitkan dengan sebuah tali dari rotan.
Itu adalah Panjat Piruai, dimana pertunjukan itu memperlihatkan bagaimana prosesi panen madu pohon secara alami oleh laki-laki Dayak Ga’ai. “Itu merupakan warisan leluhur, bagaimana kami mencari nafkah kala itu,” pungkasnya.
Bupati Berau Sri Juniarsih, mengapresiasi pelaksanaan Bekudung Betiung yang setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Baik dari segi pelaksanaannya, hingga antusias masyarakat yang menonton.
Bupati berharap hal ini dapat dilaksanakan secara konsistensi, menyusul tingginya animo terhadap Festival Budaya Bekudung Betiung bisa juga menjadi peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Kampung Tumbit Dayak.
“Kita tentu berharap pelaksanaan kegiatan ini bisa memberi dampak positif untuk masyarakat Tumbit Dayak dan Berau,” ujarnya. (sen/sam)