BATU PUTIH - Pascakejadian wisatawan meninggal dunia di objek wisata Tulung Ni Lenggo, Kampung Tembudan Kecamatan Batu Putih. Kini destinasi tersebut ditutup sementara. Pengelola diminta menerapkan standar operasional (SOP) lebih ketat lagi.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir mengatakan, pihak pengelola objek wisata bersama Pemerintah Kampung Tembudan sepakat mengambil langkah penutupan sementara. Sebagai bentuk kepedulian dan belasungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan.
“Penutupan ini dilakukan bentuk belasungkawa kami, dan kejadian itu tentu menjadi bahan evaluasi ke depan,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi hal itu kembali terjadi, pihaknya menyarankan, agar ke depan pihak pengelola dapat menerapkan SOP yang lebih ketat lagi. Setiap pengunjung juga wajib diedukasi dan dibacakan SOP-nya. Sehingga, dapat meminimalisir dampak negatif ketika berwisata di air.
Di sisi lain, pihak pengelola juga bertanggung jawab untuk membekali pelatihan mitigasi bencana kepada seluruh tim yang ada. Terutama terhadap life guard atau penjaga keamanan.
Ia juga menyarankan mereka untuk memiliki menara pengawas untuk mengawasi seluruh aktivitas pengunjung. Agar setiap pramuwisata atau guide, dapat mengingatkan timnya untuk mematuhi aturan yang berlaku.
Menjadi hal penting untuk dipertimbangkan lainnya dengan menambahkan asuransi di dalam tiket masuk objek wisata Tulung Ni Lenggo. Selain untuk daya tarik objek wisata, juga sebagai jaminan keamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.
“Ini hanya untuk antisipasi saja. Ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, para pengunjung sudah memiliki asuransi,” tegasnya.
Kendati demikian, pihaknya mengapresiasi pengelola objek wisata yang cepat dan responsif terhadap insiden meninggalnya wisatawan asal Kaltara di Tulung Ni Lenggo beberapa pekan yang lalu. Terlebih mereka juga membayar semua kebutuhan korban. Seperti membayar visum, ambulans, serta menjamin biaya kepulangan jenazah korban ke daerahnya.
“Saya sangat apresiasi, mereka telah menunjukkan bagaimana tindakan yang harus dilakukan pengelola jika terjadi insiden seperti itu,” tuturnya.
Karenanya, Samsiah mengimbau seluruh pengelola objek wisata agar terus berbenah. Jangan sampai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi di objek wisata lain di Kabupaten Berau. Meski diakuinya, musibah bisa saja terjadi di mana pun dan kapan pun.
“Kami berharap, semua pengelola objek wisata tetap semangat dan terus berbenah. Tidak hanya Tulung Ni Lenggo, tapi juga seluruh pengelola objek wisata lainnya,” ungkapnya.
Hal serupa juga turut disampaikan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, yang menyarankan agar pengelolaan wisata dapat menambahkan jaminan asuransi ke dalam tiket masuk objek wisata. Setiap destinasi wisata tentunya memiliki risiko kecelakaan. Hal itu menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi pengelola destinasi wisata. Mereka harus memaksimalkan safety atau keamanan bagi seluruh pengunjung.
Meski nantinya akan memengaruhi harga retribusi, tapi hal itu mampu menambahkan rasa aman. Harga asuransi pun diyakini tidak akan terlalu memberatkan masyarakat, karena terbilang masih murah.
“Diharapkan bagi pengelola objek wisata dapat menjalin kemitraan dengan pihak asuransi. Opsi asuransi ini bisa menjadi pilihan untuk dicoba,” katanya.
Dengan begitu, diharapkan pengunjung merasa lebih aman. Tapi tetap juga pengelola harus maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap para pengunjung. Bukan berarti dengan penetapan asuransi, pengelola jadi tidak awas. (*/aja/arp)
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi