MARATUA – Pulau Kakaban diproyeksikan tak bisa dikunjungi wisatawan dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan, sejak awal tahun ini. Keputusan itu diambil pemerintah akibat menghilangnya ubur-ubur di danau pulau itu.
Seperti diketahui, ubur-ubur jenis jellyfish stingless merupakan penghuni di Danau Kakaban, Kecamatan Maratua. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui penyebab utama menghilangnya ubur-ubur itu karena suhu ekstrem yang terjadi di Indonesia, khususnya Berau.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengatakan suhu yang mencapai 37 derajat diduga menjadi faktor utama ubur-ubur tersebut menghilang, karena mereka hanya mampu bertahan di suhu 32-33 derajat.
“Berau tercatat menjadi kabupaten kota terpanas ke dua di Indonesia pada waktu itu,” katanya.
Di sisi lain, dugaan juga mengarah ke faktor pariwisata massal. Di mana tingkat kunjungan wisatawan yang sangat tinggi ikut mempengaruhi kurangnya ubur-ubur di Danau Kakaban.
Ia melanjutkan, Disbudpar Berau sudah selesai membangun pintu masuk baru, yang jarak tempuhnya lebih dekat sekitar 10 menit dari Payung-Payung dan dalam waktu dekat akan diresmikan oleh bupati Berau.
“Pembatasan jumlah pengunjung akan dilakukan ke depannya,” jelasnya.
Sesuai kesepakatan bersama instansi terkait yang tergabung dalam Tim Tanggap Kakaban, pihaknya sepakat untuk menyarankan pemerintah untuk mengistirahatkan danau wisata ini, minimal 6 bulan dan paling lama 1 tahun.
Rekomendasi tersebut disepakati berdasarkan hasil dari penelitian Laboratorium yang mengindikasikan hilangnya ubur-ubur itu. Sebab kasus hilangnya jellyfish stingless Ini pernah terjadi juga di Pulau Eil Malk di Negara Palau yang terletak di Samudra Pasifik dan Pulau Misol di Raja Ampat. Kemudian diputuskan untuk mengistirahatkan selama 1 dan 3 tahun. Sampai akhirnya dibuka kembali untuk turis.
“Langkah ini diambil untuk kembali memperbaiki sistem di danau tersebut,” jelasnya.
Ditambahkannya, saat ini dibantu oleh stakeholder WWF bekerja sama dengan Unmul akan dilakukan riset Caring Capacity yang akan mulai dilakukan pada Mei nanti.
“Semoga daya tarik wisata 4 jenis ubur-ubur tidak menyengat yang langka sebagai unggulan Wisata minat khusus Kabupaten Berau bisa menjadi wisata premium yang memiliki batasan kunjungan per hari. Memiliki SOP yang jelas, baik untuk pengelola maupun wisatawan yang harus dipatuhi dan diedukasi,” ungkapnya.
Terkait pembatasan kunjungan wisatawan, Samsiah mengatakan masih menunggu hasil kajian yang akan dilakukan. “Untuk berapa jumlahnya per hari, menunggu hasil kajian seperti apa,” tutupnya. (hmd/arp)