TANJUNG REDEB - Penyebaran penyakit Difteri di Kabupaten Berau harus menjadi perhatian, sebagaimana diketahui dari 4 kasus yang ditemukan, 3 pasien di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Semua kasus ditemukan lantaran pasien belum pernah mendapatkan vaksinasi Difteri, Pertusis, dan Tetanus (DPT). Hal itu dikonfirmasi langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin.
Dijelaskannya, berdasarkan surat dari Bupati Berau bahwa ada peningkatan kasus difteri di Kabupaten Berau, pihaknya langsung melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri, yakni pemberian imunisasi DPT untuk anak usia 1-5 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya yang akan dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu bulan 1, 2, dan 6 bulan kemudian.
Di Kalimantan Timur sendiri diungkapkannya, sudah terdapat 16 kasus, sedangkan Kabupaten Berau tercatat sebagai kasus dengan kematian terbanyak hingga Maret ini.
Disebut, KLB sebab peningkatan kasusnya cepat terjadi, bahkan sampai mengakibatkan 3 kematian dari 4 kasus.
Artinya tingkat kematian terjadi sekitar 75 persen. "Makanya kita harus cepat merespons dengan mempercepat imunisasi bagi masyarakat yang terdampak kematian akibat difteri," ungkapnya, Kamis (21/3).
Kementerian Sosial (Kemensos) sendiri diketahui telah mengirimkan vaksin sebanyak 1.400 vial, dimana satu vial terdapat 8-10 dosis. Selanjutnya, pihaknya akan menyerahkan kepada lintas sektor di Berau untuk melanjutkan sosialisasi, seperti BPBD, Kemenag, MUI, Dinkes, dan Disdik Berau.
"Dari dinkes akan melakukan sosialisasi berjenjeng, terutama kepada orangtua yang menjadi sasaran imunisasi. Mengingat ini termasuk KLB, jadi harus ada percepatan imunisasi," tegasnya.
Sebenarnya kata dia, imunisasi ini sudah dilakukan sejak lama, namun tidak semua orangtua mau anaknya divaksin. Dan cakupan vaksinasi DPT diakuinya masih kurang, bagi anak-anak yang sudah mendapat vaksin saat bulan imunisasi anak sekolah (BIAS), tidak perlu lagi diberi vaksin.
"Sejak awal kasus Covid-19, sebetulnya banyak ditemukan kasus kliniknya. Walaupun ketika diperiksa awalnya negatif Difteri. Setelah itu muncul lagi di Samarinda karena pasien tidak ada riwayat pemberian vaksinasi. Begitu juga yang terjadi di Berau," jelasnya.
Jika bisa ditangani lebih cepat, tentunya pasien diyakininya bisa sembuh. Sementara yang tidak tertolong karena pasien sudah mengalami bull neck atau pembesaran kelenjar getah bening dan pembengkakan jaringan lunak di leher. Terjadi sumbatan jalan napas karena tertutup selaput putih keabu-abuan, kerusakan otot pembungkus jantung, serta kelainan susunan saraf pusat dan ginjal.
"Diagnosanya tidak cepat dan datang terlambat untuk mendapat perawatan. Disitulah kesadaran masyarakat belum meningkat. Karena banyak dikira sebagai penyakit amandel biasa," terangnya.
Penyebab Difteri juga dibeberkannya, adalah bakteri yang juga disebut Difteri. Utamanya karena lingkungan yang tidak bersih. Makanya, salah satu pencegahan harus rajin cuci tangan pakai sabun (CTPS).
Diingatkannya juga, Difteri perlu diwaspadai karena difteri merupakan penyakit menular. Paling umum, akan tertular jika terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk.
"Meskipun penularannya tidak secepat Covid-19, jika sakit harus tetap memakai masker dan harus rajin cuci tangan," ucapnya.
Arahan Kemenkes dikatakannya sudah jelas, bahwa penyakit yang susah disembuhkan dan jika terjadi menimbulkan kematian, maka pencegahannya harus dilakukan vaksinasi. Atau biasa disebut Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), termasuk Difteri, Pertusis, Tetanus, TBC, hingga Hepatitis.
Menanggapi tingginya kasus kematian akibat Difteri, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, memastikan Pemkab Berau berkomitmen penuh untuk penanganan kasus Difteri di Kabupaten Berau. Itu dibuktikan dengan rapat dan kesepakatan bersama lintas sektor untuk membahas penanganan Difteri.
Pihaknya juga telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Berau Nomor 23 Tahun 2024 perihal penetapan status kejadian luar biasa penyakit difteri. Berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium pada UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Kaltim, terhadap 2 kasus di Kecamatan Teluk Bayur.
Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan imunisasi yang menyasar kepada anak-anak dan itu sudah mulai dilakukan. Vaksinasi tersebut menyasar kepada empat kecamatan dengan kasus Difteri yakni Kecamatan Gunung Tabur, Teluk Bayur, Pulau Derawan, dan Kelay.
Pihaknya yakin, dengan kesiapan semua perangkat daerah, penyebaran Difteri ditangani.
"Kami yakin kejadian ini bisa ditangani baik dari sisi personal, anggaran dan sebagainya," sebutnya.
Selama ini diakuinya, banyak orang yang tidak dengan bahayanya Difteri. Makanya, sosialisasi terkait Difteri gencar dilakukan sebagai upaya pihaknya untuk menekan kasus tersebut. "Kami harap para orangtua dapat bekerja sama agar mau anaknya divaksin," ujarnya.
Sementara Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, menyebut, sejak akhir 2023 lalu telah ditemukan 8 kasus Difteri, di antaranya 3 suspect atau dicurigai dan 2 masih konfirmasi yang ternyata hasilnya negatif.
Sementara di tahun 2024 terdapat 3 kasus dengan 2 konfirmasi dan 1 klinis. Maka, disimpulkan terdapat 11 kasus direntang 2023-2024, dengan kasus meninggal dunia 3 orang dari 4 orang positif Difteri.
Adapun 1 orang meninggal dunia pada 2023 dengan usia 5 tahun, dua lainnya meninggal pada 2024 dengan usia 3 tahun dan 22 tahun. Sebagai langkah pencegahan, pihaknya telah melakukan imunisasi DPT yang sudah berjalan di kampung yang memiliki kasus Difteri.
"Secara resmi untuk skala kecamatan mulai hari ini (kemarin, red) kita tetapkan sekaligus membentuk Satgas Difteri," terangnya.
Meskipun vaksinasi baru menyasar kampung dan kelurahan yang memiliki kasus, tentu ke depan akan diperluas lagi. Khususnya untuk anak usia dua bulan hingga 15 tahun. Apabila logistik vaksinasi mencukupi, maka akan dilanjutkan hingga umur tertinggi dari kasus yang ada, yakni 22 tahun.
"Karena vaksin ini menunggu pengadaan pusat. Kalau kebutuhan kita membuat usulan. Pusat juga mengirim berdasarkan stok mereka. Karena baru tersedia pertengahan Februari, makanya Berau juga baru dapat bagian," tuturnya.
"InshaAllah kasus Difteri di Kabupaten Berau masih bisa tertangani," pungkasnya. (*/aja/sam)