Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Berbincang Seputar Ramadan Edisi 6; Jadikan Momentum Muhasabah dan Membangkitkan Ibadah

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Selasa, 19 Maret 2024 | 15:45 WIB
Ustaz Jul Amri Putra
Ustaz Jul Amri Putra

Ramadan harus dijadikan momentum muhasabah atau kesempatan bagi umat musim untuk melakukan introspeksi diri terkait hal yang telah dikerjakannya selama di dunia, serta  kebangkitan beribadah.

ARTA KUSUMA YUNANDA, Tanjung Redeb


 

BULAN Ramadan seperti yang diketahui adalah bulan spesial, sehingga kehadirannya jangan sia-siakan. Bahkan menurut Ustaz Jul Amri Putra, kita harus menjadikan Ramadan sebagai momentum musabah dan kebangkitan beribadah. “Jadikan bulan Ramadan menjadi hal yang berkaitan dengan ibadah, karena ini adalah momentum kita umat muslim untuk selalu ingat dengan Sang Pencipta (Allah, red),” sebutnya.

Yang harus menjadi perhatian saat ini ialah terkait dengan kembali meramaikan masjid. Dimana, saat ini anak muda tidak jauh dari yang namanya smartphone dan media sosial (Medsos). Sehingga untuk menarik anak-anak muda agar bisa melakukan introspeksi diri kembali membangkitkan ibadah itu bukan diberikan nasihat dengan berceramah saja, tapi kata dia harus benar-benar dirangkul dan memberikan nasihat secara langsung.

“Anak muda itu harusnya dirangkul, dan seharusnya masjid juga memiliki fasilitas pendukung untuk merangkul anak muda agar bisa melakukan kegiatan yang postif, sehingga anak muda bisa dekat dengan masjid dan terciptanya peningkatan ibadah,” sebutnya.

Ustaz Jul -sapaan akrabnya- juga menyampaikan agar setiap umat muslim bisa terus mempertahankan ibadah meski tidak di Bulan Ramadan, karena menurutnya keberhasilan Ramadan itu adalah setelah selesai Bulan Suci Ramadan itu sendiri, bukan hanya ketika Ramadan saja.

“Karena seperti gambaran, saat Ramadan tidak bisa kita mungkiri bahwa akan banyak masjid yang kembali ramai diisi dan berkegiatan, tetapi setelah Ramadan kita lihat mulai sepi dan hanya ‘tim inti’ saja yang masih bertahan untuk salat atau berkegiatan di masjid,” katanya.

Sehingga banyak-banyak masyarakat harus dipahamkan dengan pengajian-pengajian yang menyentuh, juga harus disadarkan bahwa tidak selamanya kita hidup ini mengejar harta. Yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Karena ujung-ujungnya manusia itu dikubur di bawah tanah,” tegasnya.

Dirinya juga pernah belajar salah satu pepatah, yaitu jadilah orang baik ketika orang-orang lain mendengarnya. Dalam artian seluruh umat harus bisa berbaik hati serta mampu meninggalkan hal yang baik-baik hingga dirinya telah meninggal dunia.

“Makanya untuk mengajak masyarakat untuk lebih banyak beribadah dan bekal harus dipahamkan, bahwa hidup itu untuk ibadah. Seperti ‘Dan tidaklah Allah menciptakan jin dan manusianya untuk beribadah ke Allah SWT’, itu ada di dalam Qur'an surah az zariyat ayat 59,” bebernya.

Kemudian, masyarakat itu taunya ibadah hanya salat, puasa, zakat, dan haji. Sebenarnya ibadah bukan hanya itu saja, karena cakupannya sangat luas. “Seperti membuat orang tersenyum itu salah satu amal ibadah, sehingga saya berharap kepada masyarakat agar bisa rajin dalam menuntut ilmu dan jangan hanya menghapal atau membaca saja tetapi datang ke pengajian,” pintanya.

“Karena memang dengan melihat kita pasti tahu tapi belum tentu paham dengan ilmu yang dipelajari tersebut. Tetapi dengan mengikuti kegiatan majelis ada guru yang membimbing dan mempertanggungjawabkan apa yang telah disampaikan guru tersebut,” tandasnya.

Sehingga menurutnya ada banyak cara untuk mengajak masyarakat untuk kembali kepada Allah, kepada ibadah dan melakukan kegiatan di masjid pasca Ramadan. “Sehingga saya meminta di momentum Ramadan saat ini seluruh masyarakat bisa terus melakukan ibadah dengan benar,” tandasnya. (sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#safari #ramadan #ragam