TANJUNG REDEB - Marhaban Ya Ramadan. Beberapa hari lagi seluruh umat Islam di seluruh dunia akan bertemu dengan bulan Ramadan, salah satu bulan yang istimewa. Berbagai hal pun dipersiapkan menyambut bulan suci ini, termasuk dari sisi kesehatan agar bisa selalu fit dalam menjalankan segala ibadah selama satu bulan penuh.
Dokter Spesialis Gizi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, Nevi Dwi Handayani, pun turut berbagi tips dan strategi agar tubuh senantiasa bugar dan siap menjalani aktivitas sehari-hari selama Ramadan.
Menurutnya, karena harus menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 12 jam, tubuh tidak terhidrasi dengan baik, penggunaan vitamin harian pun menurutnya tidak cukup. Yang paling utama dalam menjaga kesehatan saat Ramadan bebernya, adalah menjaga pola makan.
Setiap orang kata Nevi, cenderung 'gelap mata' mengonsumsi makanan secara berlebih ketika waktu berbuka tiba, padahal itu katanya merupakan salah satu kebiasaan yang tidak baik.
Pada saat baru berbuka tuturnya, sebaiknya cukup dengan memakan 3 buah kurma dan minum air putih, bisa ditambah es buah secukupnya. Barulah setelah beribadah Maghrib dianjurkan makan besar.
"Biasanya orang langsung dimakan semua saat waktu berbuka, terutama yang manis-manis. Padahal pola makan harus dijaga, jangan makan berlebihan pada saat berbuka," ucapnya ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/3).
Bahkan lanjutnya, setelah salat tarawih juga tidak dianjurkan makan banyak, lantaran dapat memicu obesitas atau kegemukan.
Terutama yang memiliki gula darah tinggi, tidak boleh terlalu banyak makan makanan yang manis. Boleh makan, asal secukupnya saja. Pun ketika memasuki waktu sahur.
"Kalau ada yang mau mengonsumsi susu diperbolehkan. Tapi jangan beranggapan ketika sahur justru makan harus banyak supaya pada saat puasa jadi kuat. Itu persepsi yang salah," bebernya.
Ia menganjurkan agar makan sesuai dengan porsi gizi seimbang. Di mana dalam satu piring terdapat nasi, protein hewani seperti ikan dan ayam, protein nabati seperti tahu dan tempe, serta sayur dan buah. Terlebih, perlu menghindari porsi karbohidrat yang berlebihan. Karbohidrat berlebih membuat gula darah meningkat, yang akan menyebabkan kantuk.
"Kadang mengantuk itu karena pada saat sahur makan kebanyakan, terutama karbohidrat. Atau misal makan sisa makanan buka puasa yang manis-manis. Jadi sebaiknya jangan makan nasi berlebih saat sahur," tegasnya.
Adapun setiap orang yang memiliki penyakit tertentu sebenarnya masih diperbolehkan berpuasa. Tapi itu tergantung dengan kesiapan tubuh masing-masing. Seperti orang yang memiliki hipertensi atau diabetes yang masih kuat berpuasa tentu diperbolehkan. Tapi, jika memang sudah tidak kuat berpuasa, terutama lansia sebaiknya tidak perlu berpuasa. "Yang jelas kita sesuaikan dengan kondisi masing-masing tubuh kita," ucapnya.
Apalagi bagi penderita penyakit maag atau gerd, harus dipastikan makan sahur, serta mengurangi mengonsumsi makanan yang asam, pedas, kopi, dan merokok yang dapat memicu asam lambung.
Lanjutnya kesalahan yang masih sering terjadi juga yakni langsung berbaring setelah makan berat. Padahal itu tidak boleh. Paling tidak kata Nevi, setelah makan setidaknya 1-2 jam harus duduk dulu agar makanan dapat dicerna lambung.
Semua itu juga perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup. Ia juga menganjurkan masyarakat dapat beraktivitas fisik minimal 30 menit, karena sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuh.
Nevi tidak menyarankan berolahraga terlalu berlebih saat berpuasa. Kendati begitu, bagi mereka yang obesitas berat tidak dianjurkan beraktivitas fisik, sebab dikhawatirkan dapat membebani lututnya.
"Nanti asupan energi akan diambil semua dengan olahraga, akhirnya jadi kelelahan dan sakit. Yang penting olahraga ringan masih diperbolehkan," paparnya.
Nevi menambahkan, pada saat malam hari bangun sebentar untuk salat malam tentu diperbolehkan. Jika memang akan mempersiapkan makan sahur, hindari tidur terlalu malam untuk keperluan yang tidak penting. "Tidur siang juga masih diperbolehkan asal tidak berlebihan," pungkasnya. (*/aja/sam)