Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Berau Nol Kasus ODGJ Dipasung, Dinkes Skrining Kesehatan Mental pada Remaja

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Selasa, 6 Februari 2024 | 08:28 WIB
KESEHATAN MENTAL: Petugas Dinkes Berau sedang melakukan skrining kesehatan mental kepada para pelajar tahun lalu.
KESEHATAN MENTAL: Petugas Dinkes Berau sedang melakukan skrining kesehatan mental kepada para pelajar tahun lalu.

TANJUNG REDEB - Kabupaten Berau sudah tidak memiliki orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dipasung lagi saat ini. Hal itu dibenarkan Administrator Kesehatan Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Nurhayati. 

Diungkapkannya, dari total 364 ODGJ yang ada di Berau, terdiri 171 dengan gejala ringan dan 188 lainnya memiliki gejala berat. Terbanyak berasal dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Sambaliung dengan total 43 pasien. Menyusul Puskesmas Kampung Bugis dengan 41 pasien serta Puskesmas Teluk Bayur dengan 37 pasien. 

“Sekarang sudah tidak ada lagi ODGJ yang dipasung lagi di Berau, tapi masih ada sebagian keluarga yang belum perhatian bahkan tidak mau menerima,” bebernya kepada Berau Post, Senin (5/2). 

Saat ini pihaknya sedang menggencarkan terapi suntik kepada pasien ODGJ. Diberikan setiap 20 hari sekali. Sehingga, petugas tidak kesulitan lagi memantau obat yang harus dikonsumsi setiap hari oleh pasien. 

“Saat ini kami sudah sosialisasikan dengan semua puskesmas bersama spesialis jiwa lewat zoom meeting,” ungkapnya. 

Dengan terapi suntik tersebut, diharapkan dapat meringankan beban pihaknya serta para tenaga kesehatan (Nakes) yang menangani ODGJ. Pasalnya, terapi suntik juga merupakan instruksi langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). 

“Tapi kalau obatnya sendiri sebenarnya sudah lama ada, hanya saja baru ada instruksi dari Kemenkes untuk menggalakkan terapi suntik,” terangnya. 

Sebelumnya, pihaknya belum mengetahui dengan detail terkait terapi tersebut. Setelah ada sosialisasi dari Kemenkes melalui zoom meeting, pengobatan tersebut sangat bagus untuk meringankan kerja kesehatan. 

“Awalnya kami masih bingung dalam pemakaiannya setelah ada sosialisasi ternyata bagus meringankan kerja kesehatan,” urainya. 

Meski diakuinya, tidak semua ODGJ dapat disembuhkan. Kecuali ODGJ dengan gejala ringan. Jika gejala berat harus rutin mengonsumsi obat setiap hari.

Di Berau, diungkapkannya ada ODGJ yang sudah sembuh dan melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, ada juga yang susah disembuhkan lantaran malas mengonsumsi obatnya. 

“Alasannya mereka merasa bosan minum obat, makanya dengan terapi suntik ini akan kami terapkan di Berau. Semoga saja sukses dan berhasil,” imbuhnya. 

Saat ini para ODGJ juga sudah bisa mengakses BPJS Kesehatan. Kecuali memang yang baru melapor atau ada keluarga yang tidak melapor kepada petugas. Sehingga, pihaknya tidak tahu dan belum didaftarkan BPJS Kesehatan. Kendati begitu, pihaknya telah meminta kepada pihak BPJS agar diprioritaskan. 

“Kami sudah meminta ke BPJS agar para ODGJ yang belum terdaftar bisa diprioritaskan,” tegasnya. 

Untuk mencegah terjadinya ODGJ di Bumi Batiwakkal, pihaknya juga akan memperbanyak lagi skrining kepada para remaja. Pemeriksaan dini dinilai sangat penting dilakukan sebagai salah satu bagian dari hidup sehat. Tak hanya secara fisik tapi juga psikologis. 

Manfaat skrining kesehatan mental untuk mendeteksi lebih cepat atau menentukan risiko seseorang untuk mengalami gangguan mental. Sehingga, risiko terjadinya komplikasi atau masalah yang lebih besar akibat gangguan mental, dapat dicegah.

“Makanya ke depan akan diperbanyak lagi skrining kesehatan mental kepada anak remaja untuk mencegah terjadinya gangguan mental,” ucapnya. 

Selain itu, pihaknya juga telah bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Berau yang tidak bisa melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) ke kantor Disdukcapil agar melakukan jemput bola. 

“Jadi petugas perekaman KTP yang mendatangi langsung ke lokasi ODGJ karena keterbatasan mobilitas mereka,” terangnya. 

Terpisah, Kepala Puskesmas Tanjung Redeb, Kasran menerangkan, pelayanan ODGJ di wilayah kerjanya hingga saat ini berjalan dengan lancar. Termasuk obat-obatan yang diberikan kepada keluarga pasien.

Bahkan, sebelum obat habis keluarga sudah menghubungi petugas yang menangani untuk kembali kontrol kesehatan. 

“Sekaligus pemberian obat selanjutnya, jangan sampai kehabisan obat,” ungkapnya.

Terkait terapi suntik dikatakannya belum menerapkan. Kecuali pasien mau dievakuasi ke rumah sakit (RS) untuk dirawat. Itu pun harus melibatkan petugas dari RS. (*/aja/arp)

Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #mental #kesehatan #odgj #pelajar