TANJUNG REDEB – Masyarakat Indonesia saat ini akan segera melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) yakni pada 14 Februari mendatang. Selain memilih presiden dan wakil presiden, masyarakat juga akan memilih wakil rakyat pada 4 tingkat, yaitu DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPD RI, dan DPR RI.
Pada pemilu kali ini juga banyak warna baru, satu di antaranya adalah majunya mantan Bupati Berau, Agus Tantomo, sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tingkat nasional atau DPR RI.
Agus Tantomo menjadi tokoh yang memiliki karier politik yang panjang, setidaknya dirinya sudah berpolitik selama 25 tahun terakhir. Bahkan dirinya sempat menjabat sebagai Anggota DPRD Kaltim. Saat ini, dirinya maju sebagai Caleg DPR RI dari Partai NasDem dengan nomor urut 4 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur.
Majunya Agus merupakan kesempatan baik. Bagaimana tidak, dirinya merupakan putra asli Kalimantan Timur, khususnya dari Berau. Sehingga, hal ini membuka peluang adanya perwakilan orang Berau di kursi Senayan.
Sejauh ini, pola pikir masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu masih dinilai kurang aktif. Sebab, setiap pemilu masyarakat masih fokus hanya menyukseskan pemilihan pada DPRD kabupaten ataupun kota saja, padahal masyarakat diberi 5 jenis surat suara, termasuk DPR RI.
“Masyarakat kita terkadang masih fokus hanya untuk menyukseskan pilihan di tingkat DPRD Kabupaten saja,” ujar Agus Tantomo saat ditemui di pendopo rumahnya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi, satu di antaranya adalah kedekatan masyarakat dengan para caleg di DPRD Kabupaten, sehingga pada penghitungan suara sering terjadi ketimpangan suara sah yang dihitung.
Kerap kali pada surat suara hijau atau untuk DPRD kabupaten lebih tinggi dibanding surat suara lainnya, seperti surat suara DPR RI. “Misalnya ada 1.000 pemilih, maka seharusnya jumlahnya sama dengan surat suara kuning,” jelas Agus.
Dengan perbandingan itu, artinya terdapat masyarakat yang tidak peduli dengan surat suara lain setelah surat suara untuk DPRD tingkat kabupaten. Padahal memiliki perwakilan yang berasal dari Berau akan sangat penting untuk mengawal isu-isu kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat di Senayan.
“Selama ini mereka hanya fokus memenangkan yang di daerah saja, padahal yang di provinsi dan pusat sama pentingnya, apalagi jika diwakili oleh orang kita,” jelasnya.
Fungsi keterwakilan anggota legislatif di setiap tingkatan dinilai penting, sebab perwakilan di parlemen sangat berpengaruh untuk mengawal anggaran sehingga bisa fokus pada pembangunan daerahnya.
Artinya, keterwakilan orang Berau di Senayan sangat penting, sebab sebagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 2.550 triliun yang bisa digiring untuk pembangunan di Bumi Batiwakkal.
“Contoh saja, dana aspirasi yang dikelola Anggota DPRD di Berau hanya berkisar Rp 5 miliar, namun dana aspirasi yang dikelola Anggota DPR RI mencapai Rp 50 miliar, kenapa justru kita cuek?” ujarnya.
Dirinya terhitung telah melakukan silaturahmi dan kampanye mendatangi masyarakat secara masif. Dari setiap kunjungannya, cukup banyak antusias masyarakat ikut hadir, bahkan jumlahnya 300 hingga 700 masyarakat yang hadir. Di setiap pertemuan, dirinya bertanya siapa perwakilan yang dipilih pada pemilu sebelumnya. Bahkan untuk sekadar menyebutkan nama saja, masyarkat sudah lupa.
Dikatakan Agus, lebih 75 persen masyarakat Kaltim memilih perwakilan yang sebenarnya bukan orang Kaltim. “Itu sebabnya, perwakilan kita di Senayan selalu orang luar, belum pernah ada sejarah orang Berau naik di DPR RI,” ujarnya.
Salah satu keunggulan Anggota DPR RI bagi daerah diutarakannya, mampu menggiring anggaran untuk pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat yang bersumber dari APBN. Sejauh ini, di setiap pertemuannya dengan masyarakat, mayoritas mengaku tidak tahu dan tidak mengerti alokasi apa saja yang sudah dirasakan dari perwakilan untuk Kaltim di Senanyan.
“Mereka tidak tahu, padahal banyak bantuan yang seharusnya dirasakan masyarakat kita. Kalau setiap Anggota DPR RI mengelola dana aspirasi sebanyak RP 50 miliar, maka 8 perwakilan totalnya Rp 400 miliar per tahun, artinya ada Rp 2 triliun selama satu kali masa jabatan selama 5 tahun,” terangnya.
Meski demikian dirinya mengakui ada beberapa bantuan yang disalurkan, khususnya ke Berau. Namun jumlahnya masih sedikit. Misalnya penyaluran beasiswa, hal itu ada namun jumlahnya masih sedikit. Sebab pengajuan beasiswa melalui aspirasi anggota DPR RI dilakukan dirinya pada saat menjabat sebagai Wakil Bupati dahulu.
“Sekarang aspirasi sebanyak itu larinya kemana? Tentu larinya ke kampungnya masing-masing, itu normal. Saya juga pasti akan seperti itu. Aspirasi akan saya maksimalkan di Berau, baru wilayah lainnya,” tegas Agus Tantomo.
Sehingga, dengan adanya perwakilan dari Berau, harapannya bisa memperjuangkan bantuan dan pembangunan untuk Berau. Sebab, untuk Dapil Kaltim sendiri terdapat 10 kabupaten dan kota dengan jumlah desa dan kelurahan mencapai 1.038. Tentu perwakilan di DPR RI akan memprioritaskan kampungnya masing-masing. Dengan peta wilayah yang luas, 8 perwakilan orang Kaltim pun akan sulit mengurusi satu Kaltim.
“Saya juga, sewaktu menjadi Anggota DPRD Kaltim dulu, ketika pembahasan program dan anggaran akan mengutamakan Berau dahulu, itu fungsi perwakilan,” terangnya.
Hal ini disebutnya akan berpengaruh pada pembangunan di Berau. Pembangunan daerah jika hanya mengandalkan satu mesin (anggaran) pembangunan, yaitu Pemerintah Kabupaten Berau saja tentu akan sangat lambat.
Contoh terdekat yang dapat dilihat kata Agus, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Anggaran adalah mesin pembangunan di Berau saat ini hanya Rp 4,7 triliun, sedangkan Kutim mencapai Rp 9,1 triliun.
Kemudian, Kutim mendapatkan banyak anggaran atau program pembangunan dari APBD Kaltim. Hal itu terjadi lantaran saat ini dari Dapil 6 Kaltim yang terdiri dari Berau, Kutim, dan Bontang terdapat 12 kursi yang hanya terdiri dari 6 kursi perwakilan Kutim dan 6 kursi perwakilan Bontang. Sebelumnya terdapat perwakilan orang Berau di DPRD Kaltim oleh Makmur HAPK yang saat ini digantikan bukan oleh orang Berau. “Yang 12 kursi ini menggiring anggaran ke Kutim dan Bontang, kalah sudah kita di situ,” ujarnya.
Kemudian, di Kutim ini juga mendapat kucuran dana pembangunan dari APBN. Bukan tanpa sebab, dari 8 keterwakilan Kaltim di Senayan, 2 di antaranya adalah orang Kutim. Sehingga pembangunan Kutim 'kebanjiran' proyek dari nasional.
Padahal, dibanding usia daerah, Kutim baru berusia 24 tahun, 46 tahun lebih muda dibanding Berau yang sudah 70 Tahun. “Jadi kita ini banyak kebagian sisa saja, entah beasiswa ataupun bantuan saprodi untuk pertanian. Karena mereka membagikan di kampungnya dulu baru ke sini (Berau, red),” tegasnya.
Sehingga, dirinya meminta masyarakat untuk bijak dalam memilih, jangan sampai mengorbankan pilihan hanya karena diberikan uang. Hal itu tidak sebanding dengan berbagai program pembangunan yang nantinya bisa difokuskan untuk Berau jika terdapat keterwakilan orang Berau di DPR RI.
“Bayangkan, Anda terima Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, Anda korbankan dengan memilih mereka (caleg) yang bukan orang Berau. Untuk beasiswa saja, per anak per tahun mendapatkan Rp 8 juta, kalau ditanggung dan ditotalkan berapa? Itu kalah dengan serangan politik uang,” tegas Agus.
Itu baru gambaran pada penyaluran beasiswa bagi anak-anak Berau. Padahal selain beasiswa juga terdapat bantuan sarana pertanian, pupuk, alat tangkap nelayan, modal UMKM dan banyak lagi. Hal ini, tentu bisa dimaksimalkan jika memiliki perwakilan orang Berau di Senayan seperti Agus Tantomo yang sedang berjuang.
Sehingga, hal ini menjadi penting untuk masyarkat memilih perwakilan yang bisa mengawal kebutuhan masyarakat Berau pada level nasional. Sehingga ke depan bisa lebih banyak perhatian yang diberikan negara untuk Kabupaten Berau. (*/sen/sam)
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi