Muda Bersuara Muda Berkarya DAFT 5 Hadirkan Ruang Pentas Bagi Pelajar Kaltimtara

Nurismi • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 17:50 WIB
PANGGUNG PELAJAR: Salah satu peserta tampil dalam DAFT 5 yang diselenggarakan di Gedung Busak Malur. (IZZA/BP)
PANGGUNG PELAJAR: Salah satu peserta tampil dalam DAFT 5 yang diselenggarakan di Gedung Busak Malur. (IZZA/BP)

Panggung teater pelajar kembali bergeliat di Kabupaten Berau. Melalui Darma Festival Teater (DAFT) 5, Sanggar Kreasi Seni Darma (SKSD) menghadirkan ruang bagi pelajar tingkat SMP dan SMA untuk menunjukkan kemampuan, menambah pengalaman pentas, sekaligus bertemu dengan kelompok teater dari daerah lain.

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb

DAFT 5 resmi digelar pada 21–25 September 2026 dengan mengusung tema “Muda Bersuara, Muda Berkarya” di Gedung Busak Malur Jalan Pemuda. Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau dan diikuti 13 kelompok teater dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Ketua Panitia DAFT 5 dari SKSD, Arief Fadillah, mengatakan festival tahun ini diikuti 13 kelompok atau 208 orang termasuk 13 pelatih.

Dari 13 kelompok yang tampil, 6 merupakan kelompok tingkat SMP dan 7 lainnya adalah tingkat SMA. Dalam satu hari, terdapat empat pementasan sekaligus.

Adapun peserta terjauh berasal dari Bulungan, Kalimantan Utara, serta Samarinda, Kalimantan Timur. Festival yang awalnya dirancang untuk menjadi wadah teater pelajar di tingkat kabupaten mulai mendapat perhatian dari daerah lain.

“Awalnya kami hanya mau mengadakan se-Kabupaten Berau saja. Tapi ternyata ketika kami ikut festival di luar, teman-teman dari luar juga tertarik. Jadi tahun ini kami coba buat se-Kaltimtara,” ujar Arief.

DAFT sendiri bukan kegiatan yang baru digelar. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kelima. DAFT bahkan sempat vakum sementara akibat Pandemi Covid-19. Kegiatan kemudian kembali berjalan sejak 2023 dan terus diupayakan berlangsung setiap tahun.

Pada DAFT 2 dan 3, penyelenggaraan festival masih mengandalkan pendanaan secara mandiri. Kolaborasi dengan Disbudpar Berau baru terjalin pada DAFT 4 tahun 2025, khususnya melalui Bidang Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Namun akibat efisiensi anggaran, pihaknya tidak bisa hanya mengandalkan dukungan Disbudpar Berau saja. Sebab, kebutuhan penyelenggaraan pertunjukan teater tidak sedikit.

Mulai dari panggung, perlengkapan pertunjukan, hingga kebutuhan kelompok peserta membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena itu, harus diimbangi dengan mencari donatur maupun sponsor dari pihak luar.

“Karena jujur untuk cost biaya teater ini sangat besar sebenarnya. Semoga kegiatan ini bisa berjalan setiap tahun,” katanya.

Selama lima hari pelaksanaan, DAFT 5 tidak hanya diisi dengan pementasan. Rangkaian kegiatan juga mencakup welcome party, lomba teater, workshop, hingga malam anugerah sekaligus pengumuman pemenang.

“Setelah workhop, mereka yang terpilih akan mementaskan sebuah teater di atas panggung saat malam anugerah,” ungkapnya. 

Untuk memperkuat aspek pembelajaran, panitia menghadirkan Wawan Soerawan dari Yayasan Lanjong Indonesia di Tenggarong sebagai juri. Wawan juga menjadi pelatih dalam workshop keaktoran yang digelar dalam rangkaian DAFT 5 tersebut.

Kehadiran juri dan pelatih dari luar daerah menjadi bagian dari evaluasi penyelenggaraan festival sebelumnya. Pihaknya ingin memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi peserta, tidak hanya menghadirkan kompetisi.

“Alhamdulillah tahun ini kami bisa datangkan juri dari luar. Karena evaluasi dari tahun sebelumnya, kita perlu juga ilmu yang baru dari luar,” tuturnya.

Gagasan DAFT itu sendiri juga lahir dari kegelisahan para pelatih teater di Berau yang melihat masih terbatasnya festival atau lomba teater yang dapat diikuti kelompok pelajar di daerah.

Festival yang berada di luar Berau kerap kali tidak bisa diikuti pelajar dari Berau lantaran lokasinya yang jauh. Hal itulah yang kemudian mendorong SKSD membuat panggung sendiri di Berau.

“Karena itu, kami dari SKSD berinisiatif membuat festival sendiri di Berau. Salah satu yang membedakan festival ini dengan festival teater lainnya adalah kami membuka kategori khusus untuk tingkat SMP,” beber Arief.

Lebih jauh, DAFT tidak hanya diarahkan untuk menjadi agenda tahunan berupa perlombaan. Dirinya ingin festival tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem teater di Kabupaten Berau.

Menurutnya, pelaku seni di Berau sebenarnya cukup banyak. Tantangannya adalah bagaimana komunitas-komunitas tersebut dapat dirangkul, dipertemukan, dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.

Kolaborasi dengan Disbudpar Berau juga tentunys membuka ruang untuk memperlihatkan bahwa aktivitas teater di daerah terus berjalan.

Pengalaman mengikuti festival di luar daerah juga menjadi salah satu pemicu untuk terus mengembangkan kegiatan.

Karena itu, keberadaan DAFT diharapkan tidak berhenti pada kelompok-kelompok teater sekolah. Ke depan, SKSD ingin merangkul komunitas teater yang ada di Berau dan membuka kemungkinan kolaborasi dengan cabang kesenian lainnya.

Harapannya, keberagaman seni yang dimiliki Berau dapat semakin terlihat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif daerah.

Baginya, salah satu kebutuhan terbesar teater pelajar bukan hanya latihan, tetapi kesempatan untuk tampil. Banyak kelompok teater sekolah telah memiliki kegiatan pentas tunggal, tetapi belum selalu memiliki ruang untuk mengikuti festival dan berhadapan langsung dengan kelompok lain.

Melalui DAFT, pelajar mendapat kesempatan menambah jam terbang di atas panggung.

“Mereka tidak hanya berlatih di sekolah, tetapi juga belajar mempersiapkan pertunjukan dalam suasana festival dan bertemu dengan pelaku teater dari daerah lain,” tuturnya. 

Pun diharapkan dapat menjadi laboratorium bagi para pelatih maupun pelajar. Para pelatih dapat mengembangkan metode dan pengalaman kepelatihan, sementara peserta memperoleh ruang untuk belajar melalui proses produksi dan pementasan.

Arief berharap DAFT dapat terus bertahan sebagai agenda tahunan dan berkembang menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas. Tidak hanya bagi teater, tetapi juga kesenian lainnya.

“Kita tunjukkan bahwa Berau itu juga punya kesenian yang beraneka ragam, Berau juga punya kesenian yang kaya,” pungkasnya. (hmd)

Editor : Nurismi
teater