BERAU POST - Sebagai bagian dari tugas nasional, Peserta Didik Pokjar 3 Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimmen) Polri Angkatan 67 diterjunkan ke 6 provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Salah satu sasarannya adalah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Tepatnya pada Rabu (9/9), di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, personel Sespimmen Polri Angkatan 67 menyalurkan paket bantuan berisi sembako dan alat pertanian kepada 50 KK petani kakao, yang lahannya terdampak kebakaran. Kegiatan ini turut didampingi oleh Wakil Bupati Berau, Gamalis.
Pada kesempatan yang sama itu, personel Sespimmen Polri Angkatan 67 juga berkolaborasi dengan Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni menyalurkan bantuan senilai Rp500 juta, yang merupakan hasil penggalangan dari para host dalam rangka HUT SCTV yang diinisiasi oleh Raffi Ahmad.
Dana Rp500 juta itu disalurkan kepada warga terdampak, khususnya petani kakao di Kampung Merasa. Tak hanya petani, bantuan juga disalurkan untuk mendukung keberlanjutan upaya konservasi orangutan di Kaltim, melalui kolaborasi dengan Balai KSDA Kaltim dan CAN Borneo.
Serdik Sespimmen Polri Dikreg ke-67, Kompol Fiky Pandu Widhapermana mengatakan, penugasan ini merupakan bagian dari pendidikan di Sespimmen Polri Angkatan 67 sekaligus tindak lanjut arahan pemerintah untuk membantu daerah terdampak Karhutla, dan Berau jadi salah satu titik fokusnya.
“Penanganan Karhutla tidak cukup hanya pemadaman. Pemulihan ekonomi warga juga harus jadi perhatian, agar aktivitas bisa kembali normal,” ujarnya.
Menurut Fiky, banyak lahan produktif warga di Kampung Merasa yang terbakar. Kondisi itu berpotensi mengganggu mata pencaharian utama masyarakat dalam jangka panjang.
“Semoga musibah Karhutla ini segera berlalu dan masyarakat dapat beraktivitas normal seperti biasa,” harapnya.
Sementara itu Asisten Deputi Serdik Sespimmen Polri Dikreg ke-67, Kompol Erwin Satrio Wilogo menambahkan, keterlibatan Sespimmen Polri merupakan bagian dari gerakan bersama yang melibatkan sejumlah lembaga pendidikan Polri.
Personel disebar ke enam provinsi yang terdampak karhutla, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Riau.
“Dari masing-masing provinsi, wilayah kemudian dipetakan berdasarkan tingkat dampak karhutla. Personel dibagi dalam kelompok yang terdiri atas sekitar 10 hingga 15 orang, untuk membantu penanganan di Kabupaten yang terdampak cukup serius,” jelas Erwin.
Kabupaten Berau menjadi salah satu wilayah penugasan. Dalam pelaksanaannya, Sespimmen Polri kemudian berkolaborasi dengan unsur pemerintah serta perwakilan Utusan Khusus Presiden untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat di Kampung Merasa.
Erwin menegaskan penanganan dampak Karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah daerah, Polri, TNI, hingga swasta didorong mengambil peran. Mulai dari pemadaman hingga pemulihan masyarakat terdampak dan konservasi lingkungan.
“Pemadaman adalah tugas utama, tapi pemulihan dan konservasi juga tidak kalah penting. Kita harus bahu-membahu. Sinergi seluruh pihak diperlukan, agar dampak Karhutla tidak meluas dan masyarakat bisa kembali produktif,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Berau sebelumnya juga telah menyiapkan anggaran Biaya Tidak Terduga untuk penanganan Karhutla. Kolaborasi dengan Sespimmen Polri, unsur Utusan Khusus Presiden, Balai KSDA, dan CAN Borneo ini diharapkan dapat memperkuat upaya pemulihan di wilayah terdampak, baik untuk manusia maupun ekosistem. (sen)
Editor : Nurismi