Kemas Tradisi Pedalaman Dan Pesisir, Disbudpar Berau Integrasikan Seni Budaya Jadi Paket Wisata

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:20 WIB
PROMOSI BUDAYA: Kegiatan seni dan budaya di kampung-kampung Berau dipersiapkan untuk masuk dalam Calendar of Event sebagai bagian dari penguatan promosi pariwisata daerah. (IZZA/BP)
PROMOSI BUDAYA: Kegiatan seni dan budaya di kampung-kampung Berau dipersiapkan untuk masuk dalam Calendar of Event sebagai bagian dari penguatan promosi pariwisata daerah. (IZZA/BP)

BERAU POST – Potensi wisata Berau tidak hanya bertumpu pada destinasi alam. Tradisi dan kegiatan seni yang tumbuh di tengah masyarakat kampung juga mulai dilirik untuk memperkuat daya tarik kunjungan ke Bumi Batiwakkal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa tengah menyiapkan langkah untuk menghubungkan berbagai kegiatan budaya kampung dengan sektor pariwisata. 

Sejumlah agenda yang selama ini digelar secara mandiri dinilai memiliki peluang untuk diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat luar daerah.

Adapun kegiatan seni budaya yang dilaksanakan di kampung diakuinya saat ini sudah berjalan dan memiliki karakter masing-masing.

“Potensi tersebut tentu perlu dihimpun terlebih dahulu sebelum diarahkan menjadi bagian dari promosi pariwisata,” ujarnya belum lama ini. 

Beberapa kegiatan yang disebutnya antara lain Bekudung Betiung, Neppa Pade, Uman Undad dan kegiatan di pedalaman lainnya. Serta kegiatan budaya yang berada di pesisir. 

“Kami melihat cukup banyak kegiatan seni dan budaya yang selama ini digelar di kampung-kampung,” katanya.

Tidak semua kegiatan tersebut akan langsung dimasukkan dalam agenda pariwisata. Pihaknya terlebih dahulu akan melihat kesiapan setiap event, termasuk kegiatan yang dinilai memungkinkan untuk dilaksanakan dan dikembangkan pada tahun depan.

Dari proses itu, pemerintah daerah berencana menyusun Calendar of Event yang memuat berbagai kegiatan pilihan. Keberadaan kalender tersebut nantinya diharapkan dapat memudahkan promosi kegiatan budaya yang berlangsung di kampung.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan dua potensi yang selama ini belum sepenuhnya berjalan beriringan.

“Kegiatan budaya tetap dapat menjadi wadah bagi masyarakat dalam mempertahankan tradisi, sementara di sisi lain dapat dikemas sebagai atraksi yang mendukung aktivitas wisata,” terangnya. 

Yudha mengakui, selama ini kegiatan seni budaya dan pariwisata masih cenderung berjalan masing-masing. Kondisi itu yang kini ingin diperkuat melalui penyatuan agenda dan promosi.

Setelah kegiatan terpilih masuk dalam Calendar of Event, promosi akan dilakukan agar keberadaannya diketahui lebih luas.

Dengan begitu, masyarakat yang ingin melihat langsung pelaksanaan tradisi tersebut memiliki alasan untuk mendatangi kampung penyelenggara.

“Kegiatan yang sudah masuk dalam Calendar of Event nantinya akan kami promosikan lebih luas, sehingga keterkaitannya dengan sektor pariwisata bisa semakin kuat,” ujarnya.

Pasalnya mendatangkan pengunjung ke lokasi kegiatan menjadi salah satu tujuan dari penguatan tersebut. Event budaya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan yang berlangsung sesaat, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman wisata yang dapat dinikmati langsung di tengah masyarakat.

“Rencana itu sekaligus membuka peluang agar aktivitas budaya memberikan dampak lebih besar bagi kampung tempat kegiatan berlangsung,” tuturnya.

Ketika pengunjung datang untuk menyaksikan sebuah event, keberadaan mereka di lokasi diharapkan ikut mendukung pergerakan ekonomi masyarakat sekitar.

Namun, pihaknya masih harus melakukan inventarisasi sebelum menentukan kegiatan mana yang akan masuk dalam agenda resmi pariwisata. Pemetaan tersebut diperlukan untuk melihat kesiapan masing-masing event dan memastikan kegiatan yang dipilih dapat berjalan sesuai rencana.

Ditegaskan, penguatan hubungan antara budaya dan pariwisata bukan berarti menghilangkan karakter asli kegiatan di kampung.

“Sebaliknya, potensi yang sudah ada ingin dikenalkan melalui jalur promosi yang lebih luas,” tutupnya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
Tradisi Neppa Pade Disbudpar Berau