BERAU POST – Kepala Seksi Pengendalian Operasional Pemadaman dan Investigasi Disdamkarmat Berau, Azkar, menyebut, selama periode Januari hingga Juni 2026 sudah sebanyak 40 kasus kebakaran dan 182 kasus penyelamatan yang pihaknya tangani.
Dari total kasus kebakaran tersebut, terjadi di kawasan permukiman menjadi kasus yang paling dominan dengan jumlah 22 kejadian. Selain itu, terdapat 11 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta beberapa kasus kebakaran lainnya.
Menurutnya, kondisi cuaca panas saat ini memang menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Namun demikian menurutnya, kasus kebakaran pemukiman tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh musim kemarau.
“Kalau untuk kebakaran permukiman sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh korsleting listrik, kebocoran gas. Jadi masyarakat tetap harus memperhatikan instalasi listrik di rumah masing-masing dan tetap terus waspada,” bebernya kepada Berau Post, kemarin (30/6).
Untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran, Disdamkarmat Berau saat ini tengah gencar membentuk tim relawan pemadam kebakaran di lingkungan masyarakat.
Azkar mengajak warga berpartisipasi menjadi relawan, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan padat penduduk.
“Kami berharap masyarakat mau bergabung menjadi relawan pemadaman. Pendaftaran bisa melalui kelurahan masing-masing, karena kebutuhan relawan ini sangat penting,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap RT ditargetkan memiliki minimal dua orang relawan. Nantinya, para relawan akan mendapatkan pelatihan terkait teknik dasar pemadaman kebakaran, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD).
“Kalau relawan di setiap RT sudah terbentuk, maka akan ada pembelajaran cara pemadaman dan mereka juga bisa diberikan APD sebagai bentuk perlindungan,” tambahnya.
Menurut Azkar, keberadaan relawan sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan personel Disdamkarmat saat ini. Karena itu, relawan diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam upaya antisipasi dini kebakaran di lingkungan masyarakat.
“Selain membentuk relawan, kami juga terus melakukan patroli keliling dan koordinasi dengan berbagai pihak guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran yang sewaktu-waktu dapat terjadi,” jelasnya.
Adapun pada bidang penyelamatan, pihaknya berhasil menyelesaikan 182 kasus yang didominasi oleh penyelamatan hewan berbisa seperti ular dan tawon yang kerap meresahkan masyarakat.
“Jadi memang banyak kasus yang telah kami tangani, tetapi memang untuk kebakaran permukiman itu menjadi perhatian serius kami,” pungkasnya. (aky/sam)
Editor : Nurismi