BERAU POST – Serangan hama yang menyerang tanaman padi di sejumlah wilayah pertanian mendapat perhatian serius Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau.
Setelah menerima laporan dari petani, tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan penanganan.
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen menjaga produktivitas pertanian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kami menerima laporan serangan hama dari petani dan tim POPT langsung turun melakukan pengendalian,” ujarnya belum lama ini.
Menurutnya, respons cepat tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat.
DTPHP juga terus melakukan pemantauan untuk memastikan serangan hama tidak meluas ke wilayah lainnya.
“Ini menjadi perhatian kami untuk mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan lokal,” katanya.
Sementara itu, Pejabat Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (Jafung OPT) DTPHP Berau, Bambang Sujatmiko, menjelaskan, serangan hama yang terjadi diduga dipengaruhi kondisi cuaca dan lingkungan dalam beberapa waktu terakhir.
“Penyebabnya lebih karena kelembapan tinggi dan curah hujan yang kurang,” jelasnya.
Kondisi tersebut dinilai menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan sejumlah jenis hama, terutama ulat yang menyerang tanaman padi.
Berdasarkan laporan yang diterima, serangan paling luas terjadi di kawasan Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, dengan luasan mencapai puluhan hektare.
Adapun hama dan penyakit yang teridentifikasi meliputi penggerek batang, hama putih palsu atau ulat, serta penyakit hawar daun bakteri. “Hama yang dilaporkan ada penggerek batang, ulat, dan hawar daun bakteri,” ungkapnya.
Bambang menyebut, hingga saat ini laporan serangan hama masih terkonsentrasi di wilayah Buyung-Buyung, Tabalar, dan sebagian kawasan Labanan.
Meski demikian, pihaknya terus melakukan pengawasan guna mengantisipasi kemungkinan penyebaran ke areal pertanian lainnya.
Untuk menekan perkembangan hama, tim POPT telah melakukan penyemprotan menggunakan drone pertanian di lahan terdampak. Teknologi tersebut dipilih untuk mempercepat penanganan dan menjangkau area yang luas dalam waktu singkat.
“Kami sudah menangani sekitar empat hektare dengan penyemprotan drone,” katanya.
Penanganan lanjutan juga telah dijadwalkan beberapa hari setelah penyemprotan pertama dilakukan. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan populasi hama benar-benar terkendali dan tidak kembali berkembang. “Kami tindak lanjuti lagi enam hari setelahnya,” tambahnya.
DTPHP Berau mengimbau petani untuk segera melaporkan apabila menemukan gejala serangan hama di lahan mereka.
Pelaporan dini dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga potensi kerugian produksi padi dapat diminimalkan.
Dengan pengendalian yang tepat, pemerintah berharap hasil panen petani tetap terjaga dan mampu mendukung kebutuhan pangan masyarakat Berau. (sen/sam)
Editor : Nurismi