Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Polres Berau Kembangkan Kawasan Pertanian Jagung Terintegrasi Berkonsep Zero Waste di Sambaliung

Nurismi • Kamis, 11 Juni 2026 | 18:40 WIB
KOLABORASI: Polres Berau menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan ketahanan pangan bersama masyarakat hingga kelompok tani. (SENO/BP)
KOLABORASI: Polres Berau menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan ketahanan pangan bersama masyarakat hingga kelompok tani. (SENO/BP)

BERAU POST – Upaya mendukung program ketahanan pangan nasional terus diperkuat Polres Berau melalui kolaborasi lintas sektor.

Kali ini, Polres Berau menggandeng berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan kawasan pertanian jagung terintegrasi di Kecamatan Sambaliung dengan melibatkan kelompok tani, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga perbankan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi program ketahanan pangan yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Tidak hanya fokus pada budidaya jagung, program ini juga dirancang menggunakan konsep pertanian terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga pemasaran hasil produksi.

Wakapolres Berau, Kompol Noordhianto, mengatakan keberhasilan program ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat dan pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.

“Konsepnya pentahelix, melibatkan seluruh stakeholder,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi tersebut mencakup kelompok tani, pelaku usaha, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta kepolisian sebagai penggerak, fasilitator, sekaligus pengawas program.

“Kami mendukung program Asta Cita Presiden untuk ketahanan pangan komoditas jagung,” katanya.

Ia menjelaskan, kawasan yang akan dikembangkan mengusung konsep industrial farming dengan sistem zero waste atau tanpa limbah. Dalam konsep tersebut, seluruh hasil dan produk turunan akan saling terhubung sehingga menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan.

“Mulai dari penanaman jagung, peternakan hingga perikanan akan terintegrasi,” jelasnya.

Hasil panen jagung nantinya juga direncanakan bekerja sama dengan Perum Bulog sebagai penyerap hasil produksi. Selanjutnya, jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak ayam petelur maupun dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat.

“Semua saling mendukung dalam satu siklus,” tambahnya.

Selain mendukung produksi, Polres Berau juga memfasilitasi akses pembiayaan bagi kelompok tani dengan menghadirkan pihak perbankan.

Langkah tersebut dilakukan agar petani memiliki akses modal yang lebih mudah untuk mengembangkan usaha pertanian mereka.

“Kami undang perbankan agar petani memahami sistem pembiayaannya,” ujar Noordhianto.

Pemilik lahan yang menjadi lokasi pengembangan program, Yunn Lee, menilai konsep pertanian terintegrasi mampu meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.

Menurutnya, satu lahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas usaha yang saling mendukung. “Jagung bisa menjadi sumber pangan sekaligus pakan ternak,” katanya.

Ia menjelaskan, hasil peternakan nantinya dapat menghasilkan pupuk yang kembali dimanfaatkan untuk sektor pertanian.

Selain itu, petani juga dapat menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam komoditas lain sembari menunggu masa panen jagung.

“Sekali bekerja bisa memperoleh tiga sampai empat sumber penghasilan,” ujarnya.

Tak hanya pertanian dan peternakan, kawasan tersebut juga dirancang memiliki kolam ikan sehingga seluruh potensi lahan dapat dimaksimalkan. Dengan dukungan berbagai pihak, ia optimistis tingkat keberhasilan program dapat sangat tinggi.

“Dengan dukungan semua pihak, peluang keberhasilannya sangat besar,” tegasnya.

Dukungan pembiayaan turut diberikan sektor perbankan. Kepala Unit BRI Sungai Kelay, Elisabeth, mengatakan pihaknya siap mendukung petani melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan usaha pertanian, khususnya budidaya jagung.

“Kami siap membiayai petani untuk pengembangan usaha pertanian,” katanya.

Menurut Elisabeth, KUR dapat dimanfaatkan untuk berbagai sektor produktif, termasuk pertanian dan perkebunan jagung, selama calon debitur memiliki riwayat kredit yang baik.

“Khusus kegiatan ini diarahkan untuk sektor perkebunan jagung,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembiayaan yang ditawarkan melalui skema KUR Mikro dengan suku bunga sebesar 6 persen per tahun. Program tersebut diharapkan dapat membantu petani memperoleh modal usaha sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Melalui sinergi antara kepolisian, pemerintah, pelaku usaha, kelompok tani, dan perbankan, program ketahanan pangan di Sambaliung diharapkan menjadi model pengembangan pertanian terintegrasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian pangan di Kabupaten Berau. (sen/hmd)

Editor : Nurismi
#ketahanan pangan #polres berau