Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Jadi Tren Baru di Berau, Konsep 'Forest Healing' Kampung Tubaan Tawarkan Sensasi Damai di Tengah Hutan

Nurismi • Minggu, 24 Mei 2026 | 08:35 WIB
 Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (IZZA/BP)
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (IZZA/BP)

BERAU POST - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa menyambut positif rencana Kampung Tubaan untuk mengembangkan konsep wisata forest healing. 

Inisiatif dari pihak kampung dinilai menjadi modal awal yang baik dalam mendorong pengembangan potensi wisata berbasis alam di wilayah pesisir Berau.

Dikatakannya, pihak kampung telah menyampaikan keinginan untuk membangun konsep wisata tersebut dan meminta dukungan dari pemerintah daerah.

Namun, pihaknya masih akan mempelajari konsep serta proposal yang diajukan sebelum menentukan bentuk bantuan yang dapat diberikan.

“Kami menyambut baik. Mereka kami minta membuat konsep sama proposal, nanti tetap kami pelajari dulu. Bantuan seperti apa juga belum bisa diputuskan sekarang,” ujarnya belum lama ini.

Terlebih, Kampung Tubaan memiliki posisi yang cukup strategis karena berada di jalur perjalanan menuju pesisir.

Dengan jarak sekitar dua jam perjalanan dari Kecamatan Tanjung Redeb, kawasan itu dinilai berpotensi menjadi tempat singgah bagi wisatawan yang ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Konsep forest healing yang ditawarkan kampung tersebut juga dianggap memiliki daya tarik tersendiri. Sebab, kawasan itu memiliki perbukitan dan hutan yang masih terjaga. Serta terdapat koleksi anggrek alami yang menjadi salah satu daya tarik wisata alam di sana.

Tidak hanya itu, dari puncak kawasan perbukitan, pengunjung disebut dapat menikmati panorama mangrove dan laut yang membentang di wilayah pesisir.

Suasana alam yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan dinilai cocok untuk wisatawan yang ingin mencari ketenangan.

“Konsepnya memang tempat healing, tempat orang istirahat dan menikmati suasana berbeda. Wisatanya bukan yang ramai atau hiruk pikuk,” jelas Yudha.

Potensi lain yang menjadi perhatian adalah keberadaan sumber air bersih di kawasan tersebut. Diungkapnya, sumber air itu sudah dikenal masyarakat sejak lama dan hingga kini masih dimanfaatkan warga sekitar, termasuk masyarakat pesisir.

Ia menyebut, sumber air tersebut merupakan peninggalan perusahaan kayu pada era 1970-an. Hingga sekarang, masyarakat setempat masih menggunakan air itu untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga air minum.

“Orang sana itu bahkan langsung minum dari sumber airnya karena memang bersih. Sudah puluhan tahun digunakan dan masyarakat percaya airnya aman,” ungkapnya.

Bahkan, warga dari kampung-kampung pesisir yang berada di sekitar pantai juga mengambil air dari lokasi tersebut menggunakan kapal, karena daerah mereka tidak memiliki sumber air bersih sendiri. Aktivitas pengambilan air itu disebut berlangsung hampir sepanjang hari.

“Kalau di daerah pesisir kan banyak yang tidak punya sumber air. Mereka ambilnya ke situ pakai kapal. Hampir 24 jam orang antre mengambil air,” ungkapnya.

Bahkan, pihak kampung berencana menggaet pihak swasta untuk pengembangan wisata forest healing. Pemerintah daerah tentunya sangat terbuka terhadap kolaborasi tersebut selama memiliki potensi dan tujuan yang jelas.

“Kami tentu menyambut dengan baik, yang penting ada potensi dan ada inisiatif dari mereka. Itu sudah menjadi modal awal yang bagus,” tandasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir menjelaskan, forest healing atau wisata menenangkan di hutan kini menjadi tren di Berau.

Konsep ini akan dikembangkan di Kampung Tubaan Kecamatan Tabalar dengan memadukan pengalaman menikmati keindahan alam dan edukasi tentang anggrek hutan.

Dijelaskan, program ini bertujuan membuka daya tarik wisata baru sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

“Kami mau membuka daya tarik wisata yang sekarang lagi tren, yaitu healing di hutan. Atau forest healing namanya,” ujarnya.

Forest healing di Kampung Tubaan akan dilakukan dengan kerja sama para influencer serta kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat. Paket wisata ini tidak hanya menawarkan jalan-jalan di hutan, tetapi juga edukasi tentang anggrek hutan yang tumbuh secara alami di Berau.

“Koordinasinya sudah berjalan, termasuk pembahasan paket wisata, fasilitas yang disediakan, dan keamanan pengunjung,” terangnya.

Program forest healing ini sekaligus menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan potensi lokal dan kelompok sadar wisata.

“Kami ingin teman-teman Pokdarwis tetap kreatif dan tidak merasa kalah dengan kampung lain yang sudah maju. Alam Berau itu sendiri sudah menjadi daya tarik yang luar biasa,” pungkasnya.(aja/arp) 

 

Editor : Nurismi
#Disbudpar Berau #pariwisata #forest healing