BERAU POST – Sebanyak 20 siswa tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb akan terlibat dalam kegiatan “Waktunya Main; Workshop dan Pertunjukan Teater Anak Inklusi” yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang.
Kegiatan tersebut menjadi ruang kreatif inklusif yang memadukan seni teater dan literasi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Berau.
Program tersebut digagas oleh anggota Komunitas Literasi Gerobooks Berau, Fillah M Rosyadaa, melalui dukungan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Tahun 2026. Kegiatan workshop sendiri telah mulai dilaksanakan, pada Kamis (21/5).
Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi kreatif bagi anak-anak tunarungu jenjang SD, SMP hingga SMA dari SLB Negeri Tanjung Redeb. Tak hanya berfokus pada seni pertunjukan, program ini juga mengedepankan pendekatan inklusif dan literasi dalam proses pembelajarannya.
Ketua pelaksana kegiatan, Fillah M Rosyadaa, mengatakan, seni teater memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak. Selain mengembangkan kreativitas, teater juga mampu membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Seni teater merupakan media pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kreativitas, tetapi juga membantu anak membangun kepercayaan diri dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Menurutnya, teater memiliki sifat terbuka dan fleksibel sehingga sangat berpotensi menjadi ruang inklusif bagi anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas.
Namun di sisi lain, geliat teater di Kabupaten Berau saat ini dinilai masih terbatas. Aktivitas teater lebih banyak berjalan melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah dan jumlahnya terus berkurang sejak pandemi Covid-19.
“Anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas sering kali belum mendapatkan kesempatan yang setara untuk terlibat dalam kegiatan seni pertunjukan,” jelasnya.
Melalui kegiatan “Waktunya Main”, peserta didik tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb akan diajak terlibat langsung dalam proses kreatif teater yang menyenangkan.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar latihan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk tampil, bermain, dan mengekspresikan diri mereka secara bebas.
“Karena kami meyakini bahwa melalui pertunjukan teater anak akan tercipta perjumpaan yang hangat antara teman dengar dengan teman tuli,” katanya.
Salah satu hal menarik dari program ini adalah penggabungan pendekatan literasi dalam proses teater. Cerita yang akan dipentaskan berasal dari buku cerita anak bergambar berjudul “Kue Itu Bernama Sarang Semut”, karya penulis lokal Berau, Renata Andini Pangesti, dengan ilustrasi oleh Uswah Aprilia.
Cerita tersebut akan dialihmedia menjadi pertunjukan teater anak. Dalam prosesnya, peserta tidak hanya membaca cerita, tetapi juga menghidupkannya melalui gerak, ekspresi, dan peran yang mereka mainkan sendiri.
“Melalui proses alih media ini, anak-anak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga menghidupkannya melalui gerak, ekspresi, dan peran yang mereka mainkan sendiri,” jelas Fillah.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sarana pembelajaran yang utuh bagi ABK. Tidak hanya mengembangkan aspek ekspresi diri, tetapi juga kemampuan kognitif, sosial, hingga komunikasi anak dalam satu proses yang saling berkaitan.
Adapun tujuan utama kegiatan tersebut di antaranya menyediakan ruang ekspresi kreatif yang inklusif dan bersifat terapeutik bagi anak-anak, meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi verbal maupun nonverbal, serta mengembangkan kemampuan kognitif, memori, dan keterampilan dalam menyampaikan gagasan maupun perasaan melalui pengalaman bermain peran.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mendorong keterampilan sosial, kerja sama tim, serta membangun empati dan partisipasi sosial dalam lingkungan yang suportif.
“Teater menjadi media ekspresi yang kuat bagi anak tunarungu melalui gerak tubuh, mimik, dan visual, sehingga membantu mereka menyampaikan emosi dan perasaan secara lebih bebas,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses latihan teater juga membantu meningkatkan kepercayaan diri anak melalui pengalaman tampil dan terlibat aktif dalam proses kreatif. Selain itu, kemampuan komunikasi nonverbal seperti gestur, ekspresi, dan kontak visual juga dapat berkembang lebih baik.
Kegiatan “Waktunya Main” akan terdiri dari workshop teater anak inklusi sebanyak lima kali pertemuan serta satu kali pertunjukan teater anak yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang. Dalam pelaksanaannya, anak-anak akan mendapatkan pendampingan langsung dari pelatih teater Adriane Uran.
“Diharapkan kegiatab ini dapat menjadi langkah awal terbentuknya ruang seni pertunjukan yang lebih inklusif di Berau dan membuka kesempatan yang setara bagi seluruh anak untuk berkarya serta berekspresi melalui seni,” harapnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi