Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

BPBD Berau Desak Pemerintah Kampung Aktif Tagih Dana Kebencanaan Lewat Musrenbang

Nurismi • Kamis, 21 Mei 2026 | 09:25 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Mundi. (SENO/BP)
Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Mundi. (SENO/BP)

BERAU POST – Sebanyak tujuh kampung disiapkan menjadi Kampung Tangguh Bencana atau Desa Tangguh Bencana (Destana) tahun ini. Langkah itu sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. 

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Masyhadi Mundi mengatakan pihaknya terus mendorong pembentukan Destana di Berau. 

Program tersebut dijelaskannya bertujuan membangun ketahanan masyarakat di tingkat kampung, agar lebih siap menghadapi berbagai kondisi darurat dan kebencanaan. “Istilah nasionalnya Destana,” ujarnya, Rabu (20/5). 

Ia menjelaskan, saat ini sudah terdapat lima kampung yang masuk dalam program Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Berau.

Kampung tersebut yakni Kampung Labanan Makmur, Labanan Jaya, Labanan Makarti, Kampung Merasa dan Kampung Long Beliu.

BPBD Berau juga menargetkan penambahan dua kampung baru pada tahun ini, yakni Kampung Pegat Bukur dan Kampung Bena Baru. 

Menurut Masyhadi, beberapa kampung sebenarnya mulai memiliki inisiatif sendiri untuk mempersiapkan program kebencanaan di wilayah masing-masing sebelum resmi menjadi Destana. “Ada juga inisiatif dari kampung untuk pra-nya,” jelasnya.

Selain pembentukan Destana, BPBD juga terus mendukung kegiatan pelatihan dan simulasi kebencanaan di kampung-kampung.

Salah satunya dilakukan di Kampung Tanjung Perangat yang baru-baru ini menggelar pelatihan kebakaran dan penanggulangan bencana dengan melibatkan berbagai instansi.

“Narasumber dari BPBD, damkar, dinsos dan PMI,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi kendala dalam pelaksanaan pembinaan kebencanaan di tingkat kampung. Kondisi tersebut membuat kegiatan pembinaan dan pendampingan belum dapat dilakukan secara maksimal.

“Anggaran kurang sehingga pembinaan juga terbatas,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya mengajak kampung-kampung yang rawan atau sering terdampak bencana, supaya aktif mengusulkan program kebencanaan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang).

Terlebih, penanganan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada BPBD semata. “Bencana itu urusan bersama,” imbuhnya.

Ia menilai dukungan dari pemerintah kampung maupun sektor lain sangat penting untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Program kebencanaan saat ini juga lebih diarahkan pada langkah pencegahan atau preventif dibanding hanya penanganan saat bencana terjadi.

“Sekarang lebih bersifat pencegahan,” katanya.

Masyhadi juga menambahkan, pembentukan Destana tidak cukup hanya sebatas penetapan kampung.

Keberlanjutan program harus diperkuat melalui pembinaan rutin, pelatihan hingga simulasi bagi anggota Destana agar kemampuan penanganan bencana terus meningkat.

“Anggota Destana perlu pelatihan dan simulasi,” tandasnya.(sen/arp) 

 

 

Editor : Nurismi
#anggaran #BPBD Berau