Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Benih Lebih Segar dan Minim Risiko Mati, Hatchery Tanjung Batu Jadi Angin Segar Petambak Suaran

Nurismi • Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:25 WIB
REVITALISASI: Program investasi perdana Biru Fund yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara mulai direalisasikan melalui pengembangan kembali fasilitas pembenihan udang windu di SMK 3 Tanjung Batu. (SENO/BP)
REVITALISASI: Program investasi perdana Biru Fund yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara mulai direalisasikan melalui pengembangan kembali fasilitas pembenihan udang windu di SMK 3 Tanjung Batu. (SENO/BP)

BERAU POST - Program investasi perdana Biru Fund yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mulai direalisasikan melalui pengembangan kembali fasilitas pembenihan udang windu di SMK 3 Tanjung Batu.

Program ini untuk memperkuat ketersediaan benih berkualitas bagi petambak, ekaligus mendukung sistem budi daya perikanan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selama ini, petambak di Berau masih bergantung pada pasokan benur dari luar daerah, seperti Surabaya dan Tarakan.

Kondisi itu dinilai kerap menimbulkan persoalan, mulai dari keterlambatan pengiriman hingga risiko kematian benih selama perjalanan, yang berdampak pada kualitas maupun jumlah benur yang diterima petambak.

Melalui keberadaan hatchery lokal tersebut, kebutuhan benih udang windu diharapkan dapat dipenuhi lebih cepat dengan kualitas yang lebih terjamin.

Selain itu, jumlah benur yang diterima petambak juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan produksi di tambak masing-masing.

Tak hanya fokus pada produksi, Biru Fund juga menghadirkan skema pembiayaan yang dinilai lebih ringan bagi petambak.

Program itu menawarkan pembiayaan tanpa bunga dengan masa tenggang pembayaran hingga 10 bulan. Sistem pengembaliannya disesuaikan dengan persentase keuntungan hasil panen sehingga dianggap mampu mengurangi beban modal di awal usaha.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid menyebut revitalisasi hatchery di SMK 3 Tanjung Batu menjadi bentuk sinergi yang baik antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga nonpemerintah.

“Ini upaya kreatif menjawab kebutuhan dasar petambak yang selama ini kesulitan memperoleh benih berkualitas di Berau,” ujarnya.

Program tersebut menurutnya sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya pelaku usaha perikanan tambak.

Bahkan kolaborasi serupa dapat terus berkembang dan melahirkan model usaha berkelanjutan di sektor perikanan yang dapat diterapkan di wilayah lain.

Abdul Majid menambahkan, program itu diharapkan mampu mendukung berbagai inovasi daerah yang telah berjalan, seperti KAWAN BAIK, SANG RATU, dan SIPURI.

“Model seperti ini bisa di replikasi karena tidak hanya mendukung ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir,” katanya.

Guru Agribisnis Perikanan Air Payau dan Laut SMK 3 Tanjung Batu, Catur Sketsa Suroso menjelaskan, hatchery tersebut juga menjadi sarana pembelajaran praktik bagi siswa melalui konsep teaching factory. Para siswa dilibatkan langsung dalam proses produksi benih hingga pengelolaan usaha.

“Hatchery ini bukan sekadar tempat produksi, tetapi juga media pembelajaran agar siswa memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri,” terangnya.

Dalam pengelolaannya, SMK 3 bekerja sama dengan pihak swasta, yakni PT Tri Karta Pratama yang mendampingi operasional produksi sekaligus pengembangan kurikulum praktik siswa.

Salah satu petambak asal Kampung Suaran, Jumardi mengaku keberadaan hatchery lokal memberi kepastian lebih baik dalam usaha tambak udang windu. “Dulu benur sering berkurang karena perjalanan jauh. Sekarang lebih mudah dan risikonya lebih kecil,” katanya.

Program Biru Fund merupakan bagian dari inisiatif Koralestari yang mendapat dukungan dari Global Fund for Coral Reefs.

Program ini mendorong pengembangan ekonomi biru dengan menggabungkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perlindungan ekosistem pesisir.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman mengatakan pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan usaha perikanan yang menguntungkan sekaligus mendukung perlindungan mangrove dan terumbu karang di Berau. (sen/arp) 

Editor : Nurismi
#Pembenihan #petambak #udang windu