BERAU POST - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di SMAN 1 Berau tahun ini diwarnai dengan pementasan teater bertema sosial yang mengangkat berbagai persoalan dunia pendidikan.
Selama tiga hari, mulai 4 hingga 6 Mei 2026, siswa kelas XI menampilkan sejumlah lakon yang menyoroti isu pendidikan inklusif, perundungan, hingga kesehatan mental pelajar.
Kegiatan yang digelar di lingkungan sekolah tersebut tidak sekadar menjadi ajang seni pertunjukan, tetapi juga sarana refleksi terhadap kondisi pendidikan dan kehidupan remaja saat ini. Para siswa menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan realitas sosial dan lingkungan sekolah.
Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Berau, Arifuddin, mengatakan pementasan teater tahun ini menjadi bentuk kepedulian siswa terhadap persoalan yang terjadi di sekitar mereka.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berbicara mengenai capaian akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan lingkungan belajar yang sehat.
“Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui seni teater para siswa mencoba menyampaikan pesan tentang pentingnya menciptakan ruang aman bagi peserta didik.
Selain itu, pementasan tersebut juga menjadi pengingat mengenai pentingnya dukungan terhadap anak berkebutuhan khusus serta perhatian terhadap kondisi psikologis remaja.
“Perundungan dan kesehatan mental harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Salah satu lakon yang dipentaskan berjudul Dari Aku Untuk Ayah. Cerita tersebut menggambarkan perjuangan seorang anak berkebutuhan khusus yang memiliki semangat besar untuk bersekolah, namun kurang mendapatkan dukungan dari keluarganya sendiri. Lakon ini menyoroti pentingnya pendidikan inklusif dan perhatian orang tua terhadap perkembangan anak.
Selain itu, naskah berjudul Pengorbanan mengangkat kisah seorang ibu dengan kondisi ekonomi terbatas yang tetap berjuang demi pendidikan anaknya. Cerita tersebut menggambarkan besarnya pengorbanan orang tua demi masa depan pendidikan keluarga.
Tema perundungan juga menjadi sorotan dalam lakon Meraih Mimpi dan Bullying. Kedua cerita itu memperlihatkan tekanan sosial yang dialami pelajar di lingkungan sekolah, mulai dari cibiran hingga intimidasi yang berdampak pada kondisi mental siswa.
Sementara itu, lakon Pembunuh menampilkan sisi psikologis yang lebih mendalam. Cerita tersebut menggambarkan seorang siswa yang mengalami tekanan mental berkepanjangan akibat pola asuh keras di rumah hingga memengaruhi perilakunya di sekolah.
Arifuddin berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari ujian praktik siswa, tetapi juga mampu membuka ruang diskusi antara guru, orang tua, dan pelajar mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.
“Harapannya ada kesadaran bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan mental anak,” tandasnya. (sen/hmd)
Editor : Nurismi