Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Menikmati Bubur Tasik di Losari: Catatan Santai untuk Penataan Wisata Kuliner di Berau

Nurismi • Selasa, 7 April 2026 | 18:50 WIB
SARAPAN: BUBUR Losari salah satu yang mengasyikkan berwisata kuliner di Makassar. (Dokumentasi pribadi)
SARAPAN: BUBUR Losari salah satu yang mengasyikkan berwisata kuliner di Makassar. (Dokumentasi pribadi)

BAGAIMANA ceritanya sehingga lahir nama Pantai Losari? Pertanyaan santai teman saya. Sebab, sejak kecil, setahu saya sudah ada nama itu. Sekarang usia saya 50 tahun.

Jangankan Anda yang 50 tahun. Saya yang 18 tahun lebih senior, nama Losari itu sudah ada. Jadi, kapan nama pantai Losari itu mulai dikenal?

Beberapa catatan yang saya dapatkan, bahwa sekitar Pantai Losari (Jalan Datu Museng) sekitar Rumah Sakit Stela Maris, ada tanah kavlingan. Ada juga yang menyebut berasal dari kata `Rosario`.

Sudahlah, tidak usah bahas-bahas asal muasal nama Losari pada tepi pantai di Makassar yang jadi ikon wisata itu. Seperti halnya ikon wisata yang dipunyai Berau, Pulau Derawan.

Wajah pantai Losari memang sudah menjalani `face off` banyak perubahan. Apalagi ada aktivitas `kota baru` setelah dilakukan reklamasi. Itu pun melahirkan sebutan Losari Pantai Tak Berombak.

Tapi, ada serpihan Pantai Losari yang disisakan. Bisa jadi, untuk mengenang wajah lamanya. Mungkin ada sekitar 250 meter hingga ke ujung mendekati Makassar Golden Hotel.

Di serpihan Losari inilah, warga memilih duduk santai menikmati pagi. Termasuk ada saya, kemarin pagi. Niatnya mau sekadar gerak badan. Biar badan nang tuha ini tidak terasa kaku. Sekalian ingin menikmati bubur. Bubur yang penjualnya dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pantai Losari yang diurus UPTD itu tidak lagi menggratiskan kendaraan yang akan masuk dalam kawasan. Ada pembayaran tiket elektronik ditempatkan di pintu masuk. Hebat juga, Pemkot berburu PAD.

Memang tidak seramai hari minggu pagi. Saya duduk di turabnya, sementara penjual buburnya ada di seberang jalan. Ada lima orang `marketing`nya yang menawarkan.

Ada yang duduk membelakangi pantai. Duduk mesra bersama pasangannya. Berseragam olahraga. Memandangi Masjid 99 Kubah dari kejauhan. Dulu, di bibir pantainya banyak anak-anak berenang. Aneh, sekarang tak terlihat lagi aktivitas itu.

Saya teringat tepian Sungai Segah. Aktivitas berjualan dibatasi hanya pada sore hingga malam hari. Di Jalan Pulau Derawan sedikit/lebih longgar, banyak yang berjualan pagi. Sorenya dilanjutkan pemilik lapak.

Harga bubur Losari dan sebotol air mineral tidaklah mahal. Namun view yang didapatkan lumayan menarik. Bubur bisa menarik wisatawan pagi ke Pantai Losari. Seperti bubur Manado yang ada di Pantai Boulevard. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Pantai Losari #Catatan #Daeng Sikra #makassar