Menanti "Pasar Jumat" Hadir di Masjid Baitul Hikmah Berau, Belanja Sambil Ibadah

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 18:50 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

 

PENGALAMAN baru. Jemaah masjid sambil menunggu waktu, wisata belanja dulu sebelum beribadah. Hanya berlaku di hari Jumat.

Jumat lalu, saya salat di masjid Al Markaz al Islam, Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid Islamic Center terbesar di Indonesia Timur.

Sebelumnya, teman saya Iwan mantan ASN di Berau yang sekarang pindah ke Makassar, mengirimkan foto sedang menikmati gulai   kepala ikan yang jualan di halaman Masjid Al Markaz, kata Iwan.

Saya bertanya-tanya. Apa iya halaman masjid megah itu bisa menjadi tempat kuliner. Dan teman saya itu bercerita lah tentang situasinya. Dan saya ikut penasaran.

Makanya, awal-awal saya sudah siap. Maklum, jarak tempat saya dengan masjid lumayan berjauhan. Iwan pun datang menjemput lebih cepat. Sepanjang perjalanan menuju Masjid Al Markaz membayangkan bagaimana situasinya.

Bujur jua. Masjid dengan luas bangunan sekitar 6.932 m dan luas halaman 10 hektare, pada salah satu sisi halaman itu ditempati pedagang UMKM. 

Yang saya cari, di mana tempat Iwan menikmati gulai kepala ikan. Rupanya ada di buncu (sudut). Baru bersiap-siap. Kami baru datang, pak, kata penjualnya.

Ikan apa Daeng? Tanya saya. Ikan kakap pak, jawabnya. Kami pesan dua porsi gulai kepala ikan kakap. Tidak lama. Lima belas menit sudah siap. Dan masih panas.

Memang kepala ikannya tidak terlalu besar. Tapi lumayanlah untuk menu santap siang. Rasanya tak kalah dengan rumah makan gulai kepala ikan di warung terkenal.

Menurut Daeng Taba, sang penjual, dia mulai berjualan sejak lima tahun silam. Jualannya khusus hari Jumat, hingga selesai salat Ashar, jawabnya. Tidak mahal. Mereka diwajibkan membayar Rp 50 ribu hingga selesai. Bayarnya ke pengurus masjid.

Bukan hanya yang jualan gulai kepala ikan. Di samping masjid itu, macam-macam jenis yang ditawarkan pada jemaah masjid yang akan melaksanakan Salat Jumat.

Ada yang jual sepatu cakar, batu cincin, jual gorengan, baju muslim, kopiah, dan produksi kulit. Ada juga yang berjualan mata uang kuno. Banyak jenis lah yang ditawarkan.

Setengah jam sebelum memasuki waktu salat, saya memilih teras masjid saja. Lagi-lagi ada pemandangan menarik. Palang Merah Indonesia (PMI) dan Puskesmas, menempatkan dipan darurat.

Kalau-kalau ada jemaah yang mau mendonorkan darahnya. Sementara dari petugas lainnya menyediakan alat tensi.

Tak jauh dari tempat itu. Ada jemaah menikmati pijatan seorang terapis. Jadi handak jua dipijat, biar batis aja, kata saya dengan Iwan. Masih sempat dapat giliran. Sebelum khatib naik mimbar pijatan kilat selesai. Tidak gratis.

Saya tidak membandingkan Masjid Agung Baitul Hikmah di Berau dengan Al Markaz. Atau dengan masjid lainnya yang punya halaman luas.

Menyediakan ruang bagi  UMKM tentu sebuah kebijakan yang sangat membantu. Khususnya bagi pedagang UMKM yang domisli sekitar masjid.

Al Hikmah bisa jua Daeng, kata Iwan. Hanya sekali seminggu. Kita belanja atau sekadar cuci mata, sambil menunggu waktu salat tiba. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra