GUGUSAN pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan, dekat Kota Makassar. Namanya gugusan Pulau Spermonde. Ada Pulau Lae-lae, Pulau Kayangan, Pulau Samalona, dan Pulau Kodingareng.
Pulau Kodingareng inilah kampung halaman saya. Kampung yang tak pernah saya kunjungi sejak merantau ke Kalimantan Timur. Pulau yang memiiki luas sekitar 60 hektare. Penduduknya 4.847 jiwa.
Akhir pekan lalu, saya berkunjung ke pulau yang jaraknya sekitar 2 mil dari Kota Makassar. Berangkat dari Dermaga Kayu Bangkoa. Ada tiga kapal penumpang (papalimbang).
Melihat bentuknya, kapasitas 100 orang. Ada dua jenis tarif. Orang Rp 15.000, motor Rp 75.000.
Sebelum adanya kapal bermesin, perahu tumpangan menuju pulau menggunakan perahu lambo menggunakan layar. Memanfaatkan angin darat dan angin laut. Berangkatnya di pelelangan ikan yang sekarang jadi Hotel Makassar Golden.
Satu minggu sebelumnya, berencana ke pulau. Sayangnya cuaca tidak mendukung. Dan baru akhir pekan itulah bisa berangkat. Berangkat jam 11.00, tiba di demaga jam 12.00. Lama perjalanan 1 jam.
Saya senyum-senyum sendiri mendengar percakapan warga. Saya bisa menirukannya. Bisa/lebih lancar. Maklum, saya juga kan anak pulau.
Almarhumah ibu saya lahir dan dibesarkan di pulau ini. Nenek saya, menjabat lurah (galallarrang).
Terkejut jua. Pulau yang dulu ditumbuhi banyak pohon, sekarang jadi gersang. Rumah lurah (nene saya) dulu dengan halaman luas. Sekarang sempit.
Ini bisa jadi, bertambahnya penduduk dan desakan kebutuhan lahan. Jadilah berhimpitan. Wajah pulau yang saya tinggalkan 40 tahun silam berubah drastis.
Beruntung tidak membangun rumah di atas air, kata saya dalam hati mengingat bangunan di Pulau Derawan.
Kenangan tempat membakar ikan di pinggir pantai sudah tergerus abrasi. Pohon waru pun demikian.
Saya hanya bisa membayangkan sambil berdiri di deretan perahu nelayan yang semua dibuat dengan bahan fiberglass. Bukan kayu lagi.
Tepi pantai tempat saya dulu membakar ikan sambil menunggu penjual songkolo (ketan), hanya ada dalam bayangan. Warga membangun rumah seenaknya. Tak ada aturan. Apalagi aturan tata ruangnya.
Pulau Kodingareng memang tidak dipersiapkan sebagai pulau wisata seperti pulau yang dimiliki Kabupaten Berau. Urusan sampah tidak diperhatikan serius.
Penataan bangunan rumah. Juga layanan listrik yang hanya dinikmati warga 12 jam sehari.
Sampah bagaimana? Warga hanya bisa tertawa. Tak ada aktivitas yang khusus menangani sampah. Jangan-jangan laut dijadikan tempat pembuangan sampah.
Padahal, potensi sebagai destinasi wisata cukup terbuka. Kondisi pantai yang masih cukup terjaga di beberapa tempat, bisa dijadikan obyek wisata yang menarik. Andalan warga, ya sebagai nelayan saja, kata salah seorang warga pulau. (BERSAMBUNG)
@daengsikra.id