Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Nostalgia di Warkop Phoe Nam Makassar: Tempat Persinggahan Legendaris Sejak Tahun 1946

Beraupost • Kamis, 26 Maret 2026 | 18:45 WIB

BERSANTAI: Dedy Mulyadi, tokoh pemuda di Berau jumpa di Warung Kopi Phoe Nam di Makassar. (DOK PRIBADI)
BERSANTAI: Dedy Mulyadi, tokoh pemuda di Berau jumpa di Warung Kopi Phoe Nam di Makassar. (DOK PRIBADI)

BANYAK nama jalan di Kota Makassar berganti. Salah satunya adalah nama Jalan Jampea.Kini nama jalan itu beganti dengan nama baru Jalan Hoo Eng Jie.

Siapa Hoo Eng Jie itu? Ia adalah seniman Tiongkok. Dia punya grup musik namanya `Singara Kulla-Kulawa`. Sekaligus dia juga pencipta lagu Makassar berjudul `Ati Radja` yang terkenal itu.

Atas jasanya itulah, Dani Pomanto mantan walikota Makassar, pada bulan Februari tahun 2025 mengabadikan nama Hoo Eng Djie mengganti nama Jalan Jampea. Dia dianggap berjasa promosikan budaya Makassar.

Jalan Hoo Eng Djie adalah kawasan pecinan yang kini dibangun pintu gerbang khas Tionghoa. Masih banyak rumah peninggalan sejarah ang berdiri kokoh. Saya belum dapat jawaban pasti, apakah di kawasan ini juga tmpat tinggal seniman Hoo Eng Djie.

Di sisi kiri jalan ada warung kopi yang legend di Makassar. Namanya, Warung Kopi Phoe Nam. Warung yang sudah ada sejak tahun 1046.

Awalnya berlokasi di Jalan Nusantara, sekitar pelabuhan lalu tahun 1994 pindah ke Jalan Jampea, sekarang Jalan Hoo Eng Jie.

Awalnya bingung juga, apa arti Phoe Nam. Dan, oleh generasi kedua pengelolanya menyebut Phoe Nam artinya `Terminal` atau `Tempat persinggahan`.

Warung ini udah bukan cabang di Jakarta yang jadi tempat tongkrongan anak-anak Makassar di Jakarta.

Kemarin, saya ke Phoe Nam pagi-pagi. Lama tidak menikmati teh susu dan roti bakar slainya. Seperti kebiasaan di Tanjung Redeb, menikmati teh susu di Warung Pojok.

Saya terkejut. Ada Dedi Mulyadi duduk di meja bulat. Dia tertawa. Usut punya usut, dia pelanggan setia Phoe Nam.

Dedi Mulyadi asli Pulau Derawan. Istrinya seorang dokter yang asli Makassar. Namanya dr Halijah.

Ada dua ruangan terpisah. Ada yang ber AC dan tidak ber AC. Awal bekerja semua meja terisi penuh. Biasanya banyak pejabat Pemkot yang datang. Maklum lokasinya berdekatan.

Dinding bagian dalam ditempatkan banyak foto-foto jadul. Mungkin salah satunya adalah foto pendiri Warung Pho Nam namanya Liong Thay Hiong.

Saya sejak 25 tahu lalu sudah sering ngopi di Phoe Nam, kata Dedi. Kalah jam terbang. Dia lebih unggul. Pelayannya saja memanggil `boss`.

Dan saya nikmatilah teh susu, roti bakar slei, serta telur setengah matang. Saya besok kembali ke Berau Daeng, kata Dedi.

Maklum, cuti istri sudah habis. Kalau saya masih tinggal beberapa hari lagi, kata saya. Masih banyak tempat makan belum saya kunjungi. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra