Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dilema HP buat Belajar tapi Muncul Konten Dewasa, Ini Pesan Menohok Kadis DPPKBP3A Berau untuk Orang Tua

Beraupost • Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:55 WIB

Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah

BERAU POST – Penggunaan smartphone di kalangan anak-anak dan remaja pada era pendidikan digital mejadi salah satu hal yang dilema.

Di mana, perangkat ini menjadi sarana penting untuk mencari informasi dan menunjang kegiatan belajar.

Namun di sisi lain, smartphone juga membuka celah bagi masuknya berbagai konten negatif yang sulit dibendung, termasuk konten dewasa yang kerap muncul secara tiba-tiba.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau, Rabiatul Islamiyah, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap fenomena tersebut.

Ia menilai, kemunculan iklan atau situs yang mengandung konten pornografi di ponsel anak-anak menjadi ancaman serius bagi perkembangan mental generasi muda.

“Anak-anak memang membutuhkan HP untuk mendapatkan informasi pendidikan. Namun meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai pembatasan, masih ada pihak-pihak yang mencoba mengacaukan dengan memunculkan situs-situs tersebut melalui iklan,” ujarnya kepada awak media Selasa (10/3) lalu.

Rabiatul mengaku pernah mengalami sendiri kejadian saat iklan berkonten tidak senonoh muncul secara otomatis ketika ia sedang mencari informasi di internet.

Menurutnya, jika orang dewasa saja bisa terpapar secara tidak sengaja, maka risiko bagi anak-anak tentu jauh lebih besar.

“Bayangkan jika itu terjadi pada anak-anak atau remaja yang rasa ingin tahunya tinggi, sementara kekuatan iman mereka belum kokoh. Ini tentu sangat mengkhawatirkan,” tegasnya.

Menyikapi kondisi tersebut, DPPKBP3A Berau menilai bahwa perlindungan anak di dunia digital tidak bisa hanya mengandalkan pemblokiran situs oleh pemerintah.

Peran orangtua menjadi benteng utama dalam mengawasi penggunaan gadget oleh anak-anak.

Menurut Rabiatul, orangtua harus lebih aktif mengarahkan anak dalam menggunakan media sosial dan internet.

Hal ini penting karena media sosial kini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku anak, termasuk dalam mengikuti tren yang belum tentu sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pembatasan akun atau teknologi,” jelasnya.

Selain memberikan perhatian pada dampak dunia digital, Rabiatul juga aktif melakukan pendekatan langsung kepada remaja di lapangan.

Ia kerap turun ke sejumlah titik yang menjadi tempat berkumpulnya anak muda, seperti tribun lapangan maupun lapangan basket, terutama pada waktu-waktu tertentu.

Salah satu bentuk pendekatan yang dilakukan adalah mengajak remaja untuk memprioritaskan ibadah serta memberikan pembinaan secara persuasif terhadap perilaku yang dianggap kurang tepat.

“Saya pernah mengajak anak-anak yang masih berkumpul saat waktu salat Jumat untuk segera menuju masjid. Kami juga melakukan penertiban secara persuasif terhadap barang-barang yang tidak semestinya dibawa oleh pelajar, seperti rokok,” katanya.

Tidak hanya itu, ia juga turut mengingatkan para remaja terkait penggunaan knalpot brong pada sepeda motor yang sering mengganggu ketertiban masyarakat.

Pendekatan yang dilakukan tetap mengedepankan dialog dan pembinaan, bukan tindakan represif.

“Ini adalah panggilan jiwa. Kita harus hadir secara persuasif di tengah mereka. Saya sering meminta mereka membuka knalpot brong atau mengambil kotak rokok mereka dengan cara baik-baik, dan mereka mau menurut,” tutupnya. (aky/hmd)

Editor : Nurismi
#konten iklan #penggunaan gawai #DPPKBP3A Berau #anak #konten dewasa