MEMASUKI separuh perjalanan bulan Ramadan, warga sudah mulai bertanya-tanya soal Tunjangan Hari Raya (THR)
Belum tahu Daeng kapan cairnya THR, kata teman yang bekerja di salah satu instansi di Tanjung Redeb. Sabar menunggu haja, ungkapnya.
Saya ketawa ketika teman saya menanyakan soal THR. Dapat jua kah Daeng, tanyanya. Hehehe, pensiunan tak bisa berharap banyak. Sumbernya terbatas, kata saya.
Yang menarik, di media sosial menjelang hari ke-15 puasa, muncul lagi rekaman lama soal THR. Sepertinya lagunya tidak berubah, yang berganti hanya layar belakang dan figurannya.
Ini cukup efektif, sebagai permohonan secara halus. Pasta banyak yang masih hafal lagi THR itu. Lagu yang sudah ada dan populer sejak 5 tahun lalu.
Kemarin saya buka puasa bersama teman di Warung Mas Daeng. Pengunjungnya penuh. Banyak yang memilih buka bersama di luar rumah. Karena saya tak sempat ke rumah, ikutlah menikmati suasana buka puasa bersama.
Sebelum menuju warung, mampir dulu di kawasan Jalan Somba Opu. Ada penjual es putar yang legend. Es krim sebetulnya.
Cuma Makassar lebih populer dengan sebutan es putar. Ada campuran tape ketan hitam. Harganya Rp 15 ribu per gelas besar.
Iwan, teman saya yang menemani bercerita sambil menanti saat berbuka. Dia beberapa hari ini ketawa dengan video berdurasi pendek yang menggambarkan seorang pemuda lugu. Dia mengaku terkena hipnotis.
Dengan logat khas Makassar, orang dalam video itu bagaimana dalam keadaan tidak sadar diajak makan Coto Makassar. Nanti saya sadar setelah habis tiga mangkok, begitu dialognya.
Na Hipnotiska, itu disebut berulang dengan wajah lugunya. Hebat juga idenya. Kena hipnotis, dan baru sadar setelah habis tiga mangkok coto dan lima ketupat. Hehe. (sam)
@daengsikra.id