TIGA kota masing-masing punya ciri dalam mengajak UMKM selama bulan puasa. Berau, Samarinda, dan Makassar punya nuansa Pasar Ramadan masing-masing.
Kemarin, saya masuk ke “kandangnya" pisang ijo di Makassar. Seperti apa cakrawalanya. Saya lalu ke salah satu kawasan Pasar Ramadan di Jalan Mappanyukki. Depan Hotel Melia.
Ada jejeran penjual makanan dan minuman yang dibangunkan oleh penyelenggara. Menutupi pemandangan rumah warga.
Kabarnya ada tarif khusus yang dibayarkan UMKM. Penyelenggara menyisihkan dana untuk rumah yang terdampak selama Pasar Ramadan.
Saya kesanalah. Belum ada gambaran mau berbelanja apa. Tapi mau melihat bagaimana tampilan jajanan khas pisang ijo yang juga cukup dikenal di Berau dan Samarinda.
Ada UMKM yang memproduseri pisang ijo dalan kemasan serupa. Beliki pak, RP 10 ribu ji, kata penjualnya. Penjualnya ketawa saat saya kritik soal sirop DHT-nya sedikit. Kurang banyak siropnya, kata saya.
Deretan penjual kue dan makanan siap saji sengaja dikelompokkan. Ketika bergeser ke rombong yang dipadati pengunjung, melihat penataan masakan siap santap.
Wow, ada juku eja. Jenis ikan yang saya sukai. Dibakar tanpa bumbu. Ada juga pepes ikan Mairo (teri), dan mangga cincang. Tiga jenis ini saya beli.
Juku Eja harganya Rp 15 ribu per ekor. Pepes ikan teri Rp 10 ribu dan mangga Rp 5 ribu.
Seperti buka puasa di hari ke sebelas Ramadan, bernuansa aroma Makassar. Pekan lalu aroma Samarinda dengan ikan bakar patin.
Saya belum bisa mengutarakan bagaimana rasanya pisang ijo di kandangnya. Apa lebih nyaman buatan ibu-ibu di Berau, atau lebih nikmat yang di jual di Samarinda. Atau di mana kuliner itu lahir.
Hendra alumnus akademi maritim, dan Pj Dinas Perhubungan mengaku rindu dengan kuliner Makassar. Saya hampir lima tahun di Makassar Daeng, kata Hendra. (sam)
@daengsikra.id