Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Cerita dari Kamar 5004 Dahlia: Menunggu 'Babeh' Djun dan Perjalanan 15 Menit yang Menentukan

Beraupost • Jumat, 27 Februari 2026 | 18:15 WIB

Daeng Sikra
Daeng Sikra

BESOK setelah makan siang, bapak puasa ya, kata perawat sambil meletakkan tensimeter di lengan kiri. Bapak giliran nomor 6 untuk tindakan, kata petugas

Hari itu Selasa. Berarti tindakan keesokan harinya. Hari Rabu. Awalnya saya santai saja. Maklum, kan sudah merasakan sebelumnya. Sudah merasakan bagaimana perihnya.

Saya mencoba rileks. Berjalan dari kamar 5004 ruang Dahlia, lumayan jauh. Hampir satu kilo, kata satpam. Keluarga pembesuk, temanggah-manggah jalan batis.

Nomor urut enam. Saya perkirakan dapat gilirannya setelah jam 14.00 WITA. Lawas jua berpuasa. Hingga jam 15.00 WITA tak ada kabar. Sementara pesanan nasi pecel yang dipesan di depan kantor RRI tak berani digatuk.

Maaf Pak Sikra, rencana tindakan ditunda Minggu depan, kata perawat berbaju abu-abu. Wajahnya bersih. Nampak lelah.

Mau pulang dulu boleh atau tetap tinggal sambil menunggu babeh, eh Dokter Djun kembali dari luar kota.

Ada pesan dokter, nanti bapak prioritas, tambahnya. Kalau begitu saya menunggu saja. Makan tidur. Hehehe.

Singkatnya, tibalah hari prioritas itu. Saya giliran nomor empat. Jam delapan pagi, sudah bergeser mendekati kamar operasi.

Saya tiba-tiba gugup. Dada jadi sesak. Santai saja pak, kata perawat sambil memeriksa selang infus.

Saya berusaha tenang. Dada saya terus seperti sesak. Jangan-jangan itu salah satu penyebab adanya sumbatan.

Dan, tibalah giliran saya. Dengan kereta dorong memasuki kamar yang dingin. Dingin tanpa aroma obat. Kamar yang pernah saya rasakan dua bulan lalu.

Perlu waktu 15 menit persiapan awal. Menutupi sebagian badan dengan kain steril berwarna hijau. Ada petugas yang mengajak saya bercanda. Saya sedikit terhibur.

Saya tidak tahu alat apa saja dalam ruangan itu. Alat yang bisa bergerak otomatis. Bisa mendekati bagian dada. Bisa menjauh. Ada layar monitor hitam putih.

Baik Pak Sikra, kita mulai ya, moga-moga diberi kelancaran, kata Babeh Djun. Bismillah pak, jawab saya sambil menunggu irisan nadi dipergelangan. Irisan yang sakit. Handak aja bekuciak, tapi suppan.

Perjalanan alat terlihat di layar monitor. Saya pilih berpejam. Merasakan gerakan halus ke bagian jantung.

Yaaa, hop.. hop, maju dikit, begitu yang saya dengar dari pembantu dokter. Itu proses penempatan alat pembuka sumbatan.

Akhirnya tiba di ujung tindakan. Ok beres ya, kata Babeh Djun. Saya melihat ke dinding tak ada jam. Saya perkirakan berlangsung lebih satu jam.

Alhamdulillah selesai Pak Sikra, kata Dokter Djun. Sementara kita sudah buka sumbatan. Tadi terpasang tiga alat (baca: ring). Saya hanya tersenyum. Terima kasih pak.
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra