INOVASI penarikan biaya masuk dalam kawasan Pasar Adji Dilayas terus dilakukan. Mulai masuk tanpa bayar, bayar tunai, hingga pakai uang elektronik.
Saya merasakan tiga situasi itu. Saat masuk ke kawasan pasar dengan leluasa. Tak ada yang menegur soal karcis masuk, hingga situasi berbayar di pintu utama keluar kompleks pasar.
Ini memang urusan bersih-bersih. Urusan kawasan bebas pungutan liar. Termasuklah ketika memasuki kawasan pasar.
Saya ingat hal yang tak jauh beda ketika kawasa bandara memberlakukan hal serupa. Dari membayar tunai, dan beralih ke penggunaan uang elektronik.
Sempat melahirkan banyak komentar. Terjadi penumpukan kendaraan di pintu masuk.
Alasannya sederhana, belum populernya penggunaan uang elektronik. Tapi sekarang berjalan rapi. Ada penumpukan kendaraan, tapi jadi pemandangan biasa.
Saya pun mengingat lagi, saya bersama mantan Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, pertama kali membahas soal uang elektronik. Bagaimana agar ada wajah pariwisata di situ.
Uang elektronik bersama BRI. Dan deal, hadir lah Brizzi dengan gambar wajah lokasi wisata.
Sayangnya waktu itu hanya digunakan bagi mereka yang sering keluar daerah.
Bandara dan tempat lainnya belum memberlakukan uang elektronik. Bagian dari promosi wisata.
Sekarang penggunaan uang elektronik sudah diberlakukan di banyak fasilitas umum. Termasuk urusan ongkos parkir. Dan brizzi pun bisa dimanfaatkan.
Bagi saya, tak masalah sistem pembayaran parkir di pasar berganti. Tinggal memiliki uang elektronik. Semua terjawab. Bukan hanya soal itu. Yang diharapkan warga.
Perlu dilakukan perubahan besar di dalam pasar, terutama menertibkan kawasan parkirnya. Perlu benahi. Termasuk ada toko yang “menyerobot” lahan terlalu jauh ke depan tempat jalan.
Sekarang jadi sepi Daeng? Kata teman saya. Itu bukann ada aturan baru soal biaya parkir. Banyak tempat berbelanja yang serupa dengan Adji Dilayas. Saya sendiri beli ikan dan sayur, cukup ke Jalan Manunggal. Semua terpenuhi.
Daripada berdebat. Turun lah ke lokasi mencermati satu persatu persoalannya. Dewan dan OPD berembuk lah hingga menemukan jalan terbaik baik konsumen dan para pedagang. (sam)
@daengsikra.id