PASAR Ramadan di Samarinda dibuka resmi di awal Ramadan. Andi Harun, sang walikota membuka resmi. Lokasinya di halaman utama Kompleks Stadion Segiri.
Saat pembukaan itu saya datang seorang diri, melihat bagaimana suasananya. Sambil membandingkan kan suasana yang sama di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, di Berau.
Luas halaman tak jauh beda. Penataannya yang membedakan. Ada tenda utama di tengah. Sementara tenda ukuran kecil ada di sekitarnya. Jumlah pesertanya ratusan.
Sengaja berkeliling di tenda utama. Berkumpul UMKM yang kabarnya berjualan dibanyak tempat di luar bulan puasa.
Di Pasar Ramadan itu, mereka dikumpulkan. Yang jualan gorengan dan wadai hamparan tatak dikumpulkan di satu lajur yang sama.
Sementara di seberangnya, masakan siap santap. Ada ikan bumbu merah. Ada yang jual gado-gado. Pasti nyaman.
Melihat tampilannya, saya tergoda membeli satu porsi layang bumbu merah. Saya membayangkan pasti nyaman rasanya. Menu yang jadi pilihan dalan sebulan terakhir.
Berkeliling di semua stan kuliner di tenda utama itu cukup melelahkan. Apalagi padat pengunjungnya. Kadang tak sengaja bersenggolan. Maaf Bu lah, kata itu kalau tersenggol pengunjung lainnya.
Saya tidak bertanya pada peserta pasar takjil itu. Apalah mereka membayar lapak atau gratis. Siapa tahu, walikotanya mau berbaik hati.
Peserta itu berbayar pak, cuman nda tahu berapa nilainya, kata sopir mobil online yang saya tumpangi.
Sebetulnya ada satu menu yang saya cari. Ikan papuyu bakar dan sayur santan rebung pucuk labu.
Ada stan di buncu. Berdekatan pagar. Saya menunggu sepi, tak ada peluang untuk merapat. Makanya di hari pertama berkunjung, tiba bisa melihat apa saja yang ditawarkan.
Dan kemarin, saya ke Pasar Ramadan itu lagi. Langsung menuju lapak yang jual bakar-bakaran. Terpaksa umpat belajar.
Langsung bertanya. Ada iwak papuyu kah? Kata saya. Ada aee pak, Rp 25 ribu sikung, kata penjualnya. Tak masalah. Bungkuslan 4 ikung lah, kata saya.
Akhirnya bisa ketemu iwak papuyu. Walau harus hati-hati. Sebab, ikan ini banyak tulangnya. Tulangnya karas-karas.
Tak sabar menanti saat buka puasa. Sudah membayangkan ikan papuyu bakar dan sambalnya. Ditambah lagi sayur santan wuluh dan rebung, serta pucuk daging labu. Pasti nikmat rasanya. (sam)
@daengsikra.id