Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Filosofi Angpao dan Kurs yang Berubah: Cerita Receh Tapi Bermakna di Balik Imlek 2577 Berau

Beraupost • Senin, 16 Februari 2026 | 18:45 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

ADA cahaya lain di beberapa ruas jalan di Tanjung Redeb. Lampion merah di Jalan Kapten Tendean hingga ke tepian Sungai Segah.

Pemandangan yang selalu tampak setiap pertengahan bulan Februari. Warga Tionghoa merayakan tahun baru ke 2577 Kongzilii.

Dari waktu ke waktu, ada saja suasana yang beda. Yang menonjol, bahwa Imlek dirayakan selama 15 hari. Dimulai Besok (17/2). Pasti meriah.

Entah Imlek tahun berapa, saya dapat angpao amplop warna merah berukuran kecil. Di dalamnya ada dua lembar uang kertas.

Pecahan Rp 500 bergambar orangutan dan pecahan Rp 100 warna merah bergambar perahu pinisi. Uang kertas emisi tahun 1992. Masih tersimpan rapi.

Kalau Imlek besok itu , dapat angpao lagi, nilainya tidak sebanyak itu lagi. Sudah berlipat kali perubahan kursnya. Amplopnya pun yang sedikit lebih besar. Hehehe.

Waktu berkunjung juga sangat pendek. Hanya sehari. Sebab, keesokan harinya sudah mulai hari pertama bulan puasa. Berkunjung ya diganti setelah salat taraweh.

Teman saya Oetomo Lianto setiap Imlek selalu menggelar open house. Dia tokoh warga Tionghoa.

Banyak sahabat dan relasinya. Karena bulan puasa, mungkin jam bertamunya tidak panjang.

Tak ada acara khusus jelang Imlek. Beda dengan beberapa tahun lalu yang menggelar rangkaian acara di tepian Sungai Segah.

Pernah sekali waktu, bubuhan Tionghoa mendatangkan atraksi yang terkenal dari Singkawang, Kalimantan Barat. Pertunjukan yang banyak menimbulkan histeria warga.

Kabarnya di Kalbar sendiri tidak diizinkan diadakan perayaan itu. Tapi tetap dilaksanakan di kota asalnya Singkawang.

Saya melihat partisipasi kegiatan warga Tionghoa cukup besar dalam memajukan pariwisata. Dari berbagai kegiatan yang digelar. Baik Imlek maupun perayaan lainnya.

Komunitas Tionghoa di Berau jumlahnya lumayan banyak. Sudah berada di Berau sudah cukup lama. Ini dibuktikan dengan usia Tian Fe Kong yang usianya lebih dari 100 tahun.

Pun dengan makam yang ada di Gunung Tabur, pada batu nisan tertulis tahub 1901. Jadi pertanda kedatangan sebagai warga Berau sudah menjadi bagian perjalanan sejarah di Berau.

Tahun ini tahun baru dikenal dengan Kuda Api. Tentu maknanya cukup besar pada kehidupan warga Tionghoa.

Selamat tahun baru Imlek 2577 Kongzilii. Semangat bersama membangun Berau. Tapi, ngomong -ngomong Angpaonya mana dong? (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #imlek #Daeng Sikra