Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Alarm Stunting di Berau Naik ke 23,4 Persen: Pemkab Perketat Pengawasan Balita Hingga ke Pesisir

Beraupost • Selasa, 10 Februari 2026 | 12:35 WIB
ILUSTRASI: Dinkes Berau mengajak orang tua membawa balita ke Posyandu untuk mendapatkan Vitamin A dan obat cacing guna mencegah stunting. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Dinkes Berau mengajak orang tua membawa balita ke Posyandu untuk mendapatkan Vitamin A dan obat cacing guna mencegah stunting. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, mengajak seluruh orangtua untuk lebih aktif membawa balitanya ke Posyandu dalam momentum Bulan Vitamin A dan pemberian obat cacing yang dilaksanakan pada Februari dan Agustus.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Berau, Suhartini, menegaskan, program rutin ini menjadi salah satu upaya penting pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan anak, memenuhi kebutuhan gizi, serta mencegah stunting sejak dini.

Diharapkan seluruh balita, termasuk yang berada di wilayah terpencil dan pesisir, dapat terjangkau layanan kesehatan dasar ini melalui Posyandu.

Dijelaskan, pemberian Vitamin A dan obat cacing merupakan intervensi yang saling melengkapi dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Kedua langkah tersebut berperan besar dalam menjaga daya tahan tubuh dan memastikan penyerapan nutrisi berjalan optimal.

“Pemberian Vitamin A sangat penting untuk kesehatan mata dan daya tahan tubuh. Sementara itu, obat cacing diberikan untuk anak di atas 1 tahun agar penyerapan nutrisi tidak terhambat oleh infeksi kecacingan,” ujarnya.

Namun, ia mengungkapkan tantangan utama yang masih dihadapi Dinkes Berau adalah rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke Posyandu.

Berdasarkan data tahun lalu, capaian kunjungan balita di Kabupaten Berau baru mencapai 52 persen.

Angka tersebut masih berada di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur sebesar 53,7 persen, dan jauh tertinggal dari rata-rata nasional yang mencapai 87,3 persen.

“Rata-rata penimbangan bulanan kita masih sekitar 40 persen, ini masih sangat rendah. Kami berharap melalui momentum Bulan Vitamin A ini, orangtua lebih tergerak membawa anaknya ke Posyandu,” tegasnya.

Untuk memastikan program berjalan maksimal, Dinkes Berau juga menjamin ketersediaan stok Vitamin A dan obat cacing di seluruh fasilitas layanan kesehatan.

Distribusi dilakukan secara berjenjang, dimulai dari Dinkes ke masing-masing UPTD Puskesmas, kemudian diteruskan hingga ke Posyandu di wilayah kerja masing-masing.

Pihaknya ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kawasan pesisir dan daerah terpencil yang membutuhkan perhatian khusus dalam distribusi logistik kesehatan.

Pihaknya pun telah mengeluarkan surat edaran yang meminta para pemberi kerja memberikan izin kepada orangtua agar dapat membawa balitanya ke Posyandu setiap bulan.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya bagi orangtua yang memiliki kesibukan kerja.

“Kami menyadari banyak orangtua yang bekerja. Oleh karena itu, ada edaran dari Bupati Berau agar OPD dan badan usaha memberikan izin satu hari dalam sebulan untuk urusan kesehatan balita ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini juga berkaitan erat dengan target nasional dalam menurunkan angka stunting. Melalui kunjungan rutin ke Posyandu, pertumbuhan anak dapat dipantau secara berkala melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

“Jika ditemukan masalah pertumbuhan, misalnya berat badan tidak naik, kita bisa langsung intervensi melalui pemberian makanan tambahan (PMT) lokal selama 14 hingga 56 hari, tergantung kondisi gizinya,” ucapnya.

Suhartini mengajak seluruh masyarakat Berau, khususnya para orangtua muda, untuk aktif memanfaatkan layanan kesehatan di Posyandu.

Ia juga mengingatkan agar orangtua tidak hanya meminta kapsul Vitamin A dibawa pulang tanpa pemeriksaan anak.

“Jangan hanya minta vitaminnya dibawa ke rumah. Bawalah anak ke Posyandu agar bisa dipantau pertumbuhannya oleh petugas kesehatan dan mendapatkan penyuluhan gizi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Berau, Gamalis menyampaikan, Pemkab Berau memperkuat langkah percepatan penurunan prevalensi stunting agar lebih terarah dan efektif.

Berdasarkan data yang ada, angka stunting pada tahun 2024 tercatat sebesar 23,4 persen, mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2023 yang berada di angka 23 persen.

Upaya pencegahan dan penurunan stunting tidak boleh dipandang sebagai program jangka pendek saja, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi Kabupaten Berau.

Dengan menurunkan angka stunting, pemerintah daerah tengah menyiapkan generasi Berau yang sehat, cerdas, dan berkualitas untuk masa depan.

“Penurunan stunting ini menjadi prioritas bersama. Semua OPD harus bergerak seirama sesuai peran dan kewenangannya masing-masing, agar hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemetaan data yang akurat serta intervensi yang tepat sasaran, khususnya kepada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Data yang valid dinilai menjadi dasar utama dalam penyusunan program, sehingga setiap kebijakan dan kegiatan yang dilaksanakan dapat menjangkau sasaran yang benar-benar membutuhkan. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#pengawasan #Perketat #angka stunting #pemkab berau #Dinkes Berau