Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Jangan Sepelekan Gusi Bengkak! Ternyata Masalah Gigi Ibu Hamil Bisa Jadi Pemicu Stunting di Kaltim

Beraupost • Senin, 9 Februari 2026 | 13:25 WIB
Dokter gigi umum,  Apotek Densmart Medika Farma, drg Fanny Hana Winata Lubis. (DOK PRIBADI)
Dokter gigi umum, Apotek Densmart Medika Farma, drg Fanny Hana Winata Lubis. (DOK PRIBADI)

BERAU POST – Kesehatan gigi dan mulut khususnya pada ibu hamil, berpengaruh terhadap stunting.

Pasalnya, kondisi rongga mulut yang tidak terjaga dapat memicu infeksi, berpengaruh pada kehamilan, hingga meningkatkan risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yang kemudian rentan mengalami stunting.

Dokter gigi umum di Apotek Densmart Medika Farma, drg Fanny Hana Winata Lubis menjelaskan, salah satu fokus pemerintah saat ini adalah menuju Indonesia Emas 2045, dengan target menekan stunting melalui berbagai program.

Namun menurutnya, stunting tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi, tetapi juga berkaitan dengan faktor risiko lain seperti BBLR.

“BBLR sendiri adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari sama dengan 2.500 gram. Biasanya bayi-bayi seperti ini rentan terhadap stunting ke depannya,” ujar drg Fanny.

Meski kasus BBLR mulai menurun, tetapi angkanya belum mencapai target yang diharapkan.

Salah satu cara menekan risiko tersebut, kata dia, adalah dengan memperhatikan kesehatan gigi dan mulut ibu sejak sebelum hamil.

Ia menilai, hubungan antara kesehatan mulut dan stunting berawal dari perubahan kondisi tubuh ibu selama kehamilan.

Pada masa tersebut, ibu hamil mengalami perubahan hormon dan penurunan imunitas sehingga lebih mudah terinfeksi penyakit.

“Di rongga mulut kita memang banyak sekali organisme, seperti bakteri. Kalau tubuh kita kuat, bakteri ini tidak akan menginfeksi. Tapi ketika tubuh melemah, dia bisa menginfeksi,” ungkapnya.

Salah satu masalah yang sering muncul pada ibu hamil diungkapkannya penyakit periodontal.

Penyakit ini tidak hanya menyerang gigi, tetapi juga jaringan penyangga gigi seperti gusi dan tulang.

“Biasanya pada ibu hamil, gusi mengalami pembengkakan yang disebut gingivitis, yaitu peradangan pada gusi,” ucapnya.

“Meski sebagian tidak merasakan keluhan, kondisi ini sebenarnya tetap mengganggu dan menandakan adanya peradangan,” tambahnya.

Radang pada gusi ini, lanjut drg Fanny, bukan sekadar masalah lokal di mulut. Zat-zat radang dapat masuk ke sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Kondisi tersebut dapat memicu kontraksi rahim yang berujung pada kelahiran prematur.

“Kontraksi rahim yang dipicu oleh peradangan itu dapat berujung pada kelahiran prematur. Ketika bayi lahir terlalu dini, berat badannya sering kali rendah atau masuk kategori BBLR,” katanya.

“Dari rangkaian inilah, risiko stunting kemudian ikut meningkat,” sambung drg yang baru menginjak usia 25 tahun tersebut.

Kebiasaan menjaga kesehatan mulut pada ibu hamil menurutnya masih sering diabaikan.

Sebelum hamil mungkin tidak ada keluhan, tetapi ketika memasuki masa kehamilan, kondisi bisa memburuk karena faktor hormonal dan daya tahan tubuh yang menurun.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pencegahan sejak awal. Dalam hal ini terdapat dua fase, yakni sebelum kehamilan dan saat kehamilan.

Sebelum hamil, pemerintah sebenarnya memiliki program pemeriksaan bagi calon pengantin di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Dalam pemeriksaan tersebut, pasangan dapat memeriksakan kondisi gigi dan mulut serta mendapatkan edukasi.
“Nanti akan melihat gigi mana yang berpotensi menimbulkan keluhan. Sebab, antara suami dan istri bisa terjadi pertukaran silang penyakit,” jelasnya.
Ia mencontohkan, gigi berlubang pada salah satu pasangan bisa menularkan bakteri kepada pasangannya. Karena itu, suami istri sebaiknya sama-sama menjaga kesehatan mulut sebelum merencanakan kehamilan.
Pada fase ini, tindakan seperti scaling, pencabutan gigi, atau penambalan gigi lebih baik dilakukan sebelum hamil untuk mencegah keluhan di masa kehamilan.
“Selama hamil sebenarnya tindakan perawatan gigi tetap boleh dilakukan, hanya saja kondisinya lebih rentan sehingga biasanya perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan,” tuturnya.
Selain perawatan, kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi minimal dua kali sehari menjadi kunci. drg Fanny menekankan waktu yang tepat adalah pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
“Jadi pagi setelah sarapan baru sikat gigi. Malam sebelum tidur sikat gigi lagi, supaya dari malam sampai pagi gigi bersih,” katanya.
Pada ibu hamil, tantangan lain muncul karena mual dan muntah. Kondisi muntah menyebabkan rongga mulut menjadi lebih asam sehingga pH menurun dan membuat gigi lebih mudah terkikis. Ia menyarankan agar setelah muntah, ibu hamil segera berkumur untuk menjaga kondisi rongga mulut tetap bersih.
Ia juga mengingatkan pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi sebelum muncul rasa sakit. Sebab jika sudah sakit, tindakan tidak bisa langsung dilakukan karena kondisi ibu hamil lebih sensitif.
Selain faktor infeksi dan radang, stunting juga bersifat multifaktorial. Dicontohkan, pada ibu hamil yang sering mual biasanya kehilangan nafsu makan sehingga nutrisi ibu dan janin tidak optimal. Berkurangnya asupan nutrisi pada ibu hamil juga berdampak pada kurang optimalnya nutrisi yang diterima janin, dan jika kondisi ini berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko stunting.
Wanita lulusan Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya tersebut menambahkan, apabila ibu hamil mengalami gigi berlubang, penanganan biasanya hanya terbatas pada pemberian obat anti nyeri yang juga tidak bisa sembarangan. Sehingga masalah gigi tetap harus diselesaikan secara selektif tergantung kondisi umum pasien, kondisi giginya hingga kesiapan mental pasien tersebut.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki program antenatal care (ANC) di puskesmas dengan enam kali kunjungan selama masa kehamilan untuk memantau kondisi ibu dan janin. Sehingga, kesehatan ibu tetap terjaga, perkembangan janin dapat dipastikan berjalan optimal, dan berbagai risiko sejak dini, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut, bisa segera terdeteksi.
“Tentunya harapannya, dengan ibu yang sehat sejak masa kehamilan, termasuk kesehatan gigi dan mulut yang terjaga, anak yang lahir pun bisa tumbuh lebih optimal dan terhindar dari risiko stunting,” pungkasnya. (aja/arp)

Editor : Nurismi
#stunting #ibu hamil #kesehatan gigi