MASIH ingat ketika kita masih kecil? Ada lagu yang bercerita soal hujan. Tik tik tik bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Dan seterusnya.
Ada tiga top isu yang disuarakan Presiden Prabowo di Bogor. Di hadapan ribuan peserta di antaranya bupati dan gubernur. Tiga top isu itu soal reklame, sampah, dan atap genting (baca: genteng).
Keesokan harinya, setelah pernyataan keras presiden itu, media sosial ramai memotret kesibukan disalah satu pantai yang ada di Bali. Pulihan ton sampah berhasil diangkut.
Pun di Bogor demikian disinggung semrawutnya pemasangan spanduk dan baliho, langsung ada aksi menurunkan spanduk. Ada yang dilepas baik-baik. Ada yang dirobek.
Seperti dalam catatan saya sebelumnya, Tanjung Redeb walau banyak spanduk tapi belum mengganggu pemandangan. Masih rapi.
Soal sampah ini yang akan digelorakan oleh pimpinan di daerah. Akan ada aksi besar-besaran membersihkan titik yang terdapat tumpukan sampah. Saya menunggu seperti apa pergerakan itu.
Menariknya, Presiden Prabowo ingin agar penggunaan atap rumah tak lagi menggunakan seng gelombang. Maunya presiden diganti dengan genting.
Banyak bangunan tua di Berau tak menggunakan genting. Yang dipakai atap sirap. Rumah atau bangunan pemerintah juga tak menggunakan genting. Terus dari mana mendapatkan genting?
Kata teman, jenis tanah di Berau hanya cocok buat batu bata. Di Bali dan daerah lainnya di Jawa gampang didapatkan genting. Tanahnya cocok untuk genting
Bingung juga kalau diwajibkan. Terpaksa ada tambahan biaya mendatangkan genting dari Jawa. Entah untuk bangunan yang baru.
Perintah Presiden itu jadi ramai. Kata kawal di Warung Pojok, rumah tuha diganti atap genting, bisa rubuh rumahnya. Kayak rumah ku lah, kata saya sambil tertawa lebar. (sam)
@daengsikra.id