BERAU POST – Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat perkembangan pada Januari 2026 secara tahunan atau year on year (yoy) sebesar 3,78 persen.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan inflasi Desember 2025 yang tercatat sebesar 2,82 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Berau, Mega Safira Aulia menjelaskan, Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator strategis yang digunakan pemerintah dalam merumuskan kebijakan, terutama yang berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat.
Data IHK sendiri dihitung berdasarkan Survei Biaya Hidup (SBH) yang secara berkala dilakukan BPS.
“IHK menjadi gambaran perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Dari data Januari 2026, terdapat sejumlah fenomena yang memengaruhi pergerakan inflasi di Kabupaten Berau,” ujarnya.
Ia menyebut, salah satu faktor yang cukup dominan adalah kenaikan harga emas secara global. Kondisi tersebut turut berdampak pada harga emas di tingkat konsumen di Kabupaten Berau.
Tingginya permintaan emas menyebabkan harga komoditas ini mengalami kenaikan signifikan dan memberikan andil besar terhadap inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan di Kabupaten Berau.
Selain itu, momentum Tahun Baru 2026 dan libur sekolah juga memberi pengaruh terhadap pergerakan harga.
Pada periode tersebut terjadi penurunan tarif angkutan udara di sejumlah rute dari dan ke Kabupaten Berau, yang kemudian berkontribusi terhadap deflasi bulanan.
Lanjutnya, secara regional, BPS mencatat inflasi Provinsi Kalimantan Timur pada Januari 2026 secara month to month sebesar 0,04 persen.
Sementara itu, inflasi year on year tercatat sebesar 3,76 persen, dan inflasi tahun kalender atau year to date sebesar 0,04 persen.
“Berbeda dengan capaian provinsi, Kabupaten Berau justru mengalami deflasi secara bulanan. Dari bulan ke bulan, deflasi tercatat sebesar 0,32 persen,” ungkapnya.
Namun, inflasi tahunan tetap berada di level 3,78 persen. Deflasi tahun kalender di Kabupaten Berau juga tercatat sebesar 0,32 persen.
Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran, terdapat lima kelompok yang mengalami deflasi pada Januari 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,95 persen dengan andil 0,28 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 0,34 persen dengan andil 0,02 persen.
Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi sebesar 0,29 persen dengan andil 0,05 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatat deflasi 0,97 persen dengan andil 0,05 persen, sementara kelompok transportasi mengalami deflasi 0,78 persen dengan andil 0,1 persen.
“Untuk komoditas emas perhiasan tercatat sebagai pendorong inflasi terbesar pada Januari 2026 dengan andil 0,18 persen,” ucapnya.
Komoditas lain yang turut menahan deflasi antara lain ikan bandeng, daging ayam ras, bayam, tempe, jagung manis, sepeda motor, kangkung, mi kering instan, dan kacang panjang.
Sementara itu, ikan layang menjadi komoditas utama yang mendorong deflasi dengan andil 0,28 persen, disusul angkutan udara, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, bensin, sabun detergen bubuk, tomat, beras, wortel, serta baju anak setelan.
Secara tahunan, terdapat tiga kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang terbesar inflasi Januari 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,73 persen dengan andil 1,12 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi tertinggi, yakni 12,98 persen dengan andil 2,03 persen.
Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 12,9 persen dan andil 0,93 persen.
Adapun komoditas utama pendorong inflasi year on year antara lain tarif listrik, emas perhiasan, ikan layang, ikan bandeng, ikan kembung, udang basah, ikan tongkol, sigaret kretek mesin, nasi dengan lauk, serta bawang merah.
“Sementara komoditas yang menahan laju inflasi antara lain angkutan udara, bayam, tomat, daging ayam ras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, kangkung, sabun detergen bubuk, bensin, dan pengharum cucian,” pungkasnya.(aja/arp)
Editor : Nurismi