Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Anggaran Terbatas, Disbudpar Berau Pilih Kuliner dan Seni sebagai Sub Sektor Prioritas 2026

Beraupost • Kamis, 15 Januari 2026 | 11:45 WIB
MINIM ANGGARAN: Pelatihan sub sektor ekraf di Berau tetap dilaksanakan tahun ini, namun tidak semua sub sektor lantaran pemangkasan anggaran yang diterapkan Pemerintah Pusat. (IZZA/BP)
MINIM ANGGARAN: Pelatihan sub sektor ekraf di Berau tetap dilaksanakan tahun ini, namun tidak semua sub sektor lantaran pemangkasan anggaran yang diterapkan Pemerintah Pusat. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menetapkan sub sektor kuliner dan seni sebagai sasaran pelatihan tahun ini.

Setelah menyesuaikan program dengan kebijakan efisiensi anggaran sehingga tidak semua sub sektor ekonomi kreatif bisa difasilitasi dalam satu waktu.

Kabid Bidang Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Nurjatiah mengungkapkan, pelaku ekonomi kreatif sub sektor kuliner sebagai prioritas utama dalam program pelatihan dan sertifikasi tahun ini. Adapaun fokusnya pada pelatihan serta sertifikasi barista kopi.

Diakuinya, pelatihan yang dijalankan memang belum bisa menjangkau seluruh sub sektor ekonomi kreatif karena keterbatasan anggaran dan kapasitas kegiatan, sehingga harus ditentukan skala prioritas.

“Ada pelatihan, tapi terbatas, tidak semua sub sektor ekraf bisa terakomodir,” katanya kepada Berau Post, Rabu (14/1).

Penetapan sub sektor kuliner sebagai prioritas bukan tanpa alasan. Kuliner dinilai sebagai sub sektor unggulan dalam talenta daerah Kabupaten Berau dan selaras dengan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Selain itu, sub sektor ini juga dinilai memiliki dampak ekonomi yang langsung dan relatif cepat dirasakan oleh masyarakat.

“Kuliner itu sub sektor unggulan dalam talenta pekda Berau dan selaras dengan kebijakan pengembangan ekraf,” ujarnya.

Dijelaskan, salah satu pertimbangan utama lainnya adalah jumlah pelaku usaha kuliner yang cukup banyak serta potensi serapan tenaga kerja yang besar.

Dengan banyaknya masyarakat yang bergerak di bidang ini, intervensi melalui pelatihan dan sertifikasi diharapkan bisa berdampak luas terhadap peningkatan kualitas usaha dan pendapatan pelaku.

Di sisi lain, keterkaitan sub sektor kuliner dengan sektor pariwisata juga menjadi alasan kuat. Wisatawan yang datang ke Berau tidak hanya ingin menikmati keindahan alam, tetapi juga mencari pengalaman rasa lokal yang khas.

“Orang berkunjung untuk berwisata bukan saja melihat alam, tapi juga mencari pengalaman rasa lokal,” jelasnya.

Selain itu, sub sektor kuliner dinilai lebih siap untuk mengikuti program sertifikasi karena sudah memiliki skema kompetensi yang jelas dan tersedia.

Beberapa skema yang dimaksud antara lain pengolahan makanan, penjajahan makanan, hingga pelayanan restoran dan kafe, sehingga proses sertifikasi dapat berjalan lebih terarah.

Pelatihan dan sertifikasi kuliner juga diarahkan untuk mendukung standar mutu dan keamanan pangan.

Dalam pelatihan tersebut, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), sanitasi, higienitas, serta keamanan pangan menjadi perhatian utama.

“Ini untuk melindungi konsumen dan meningkatkan kepercayaan pasar, terutama di daerah tujuan pariwisata,” ujarnya.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pihaknya menetapkan sub sektor kuliner sebagai pilihan prioritas dalam program pelatihan dan sertifikasi karena dinilai memiliki dampak ekonomi yang besar, mendukung pengembangan pariwisata, serta mampu meningkatkan kualitas dan profesionalisme pelaku ekonomi kreatif di daerah.

Selain itu kegiatan untuk sub sektor lain tetap ada. Salah satunya adalah kegiatan untuk sub sektor seni pertunjukan, khususnya bagi komunitas teater.

Untuk sub sektor seni pertunjukan ini dipilih karena bersifat multidisipliner, karena dalam satu kegiatan teater bisa melibatkan banyak sub sektor ekonomi kreatif sekaligus, mulai dari seni peran, sastra, musik, tari, tata rias dan busana, desain panggung, hingga wastra dan kriya.

"Sehingga, satu pementasan teater dapat menggerakkan banyak pelaku ekraf dalam satu ekosistem dan dampak pengembangannya dinilai lebih luas dibandingkan seni pertunjukan tunggal," bebernya.

Selain itu, teater juga dinilai sebagai media yang efektif untuk penguatan identitas lokal, karena sangat fleksibel untuk mengangkat cerita rakyat, sejarah, adat, serta kearifan lokal Berau, bahkan bisa menjadi media kritik sosial, kritik terhadap pemerintah, maupun sarana menyampaikan isu-isu sosial dan lingkungan dengan cara yang kreatif dan mudah diterima masyarakat.

Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, pelaku teater juga dilatih untuk memiliki kreativitas, kemampuan kerja tim, kepemimpinan, dan disiplin, sehingga dampaknya tidak hanya pada karya seni, tetapi juga pada pembentukan karakter.

Teater juga dianggap relatif mudah dikembangkan di daerah karena bisa menyesuaikan dengan kondisi lokal, serta memiliki potensi ekonomi dan potensi mendukung agenda event daerah melalui pementasan, festival, dan kegiatan budaya lainnya yang melibatkan banyak pihak.

Ia berharap, ke depan program pelatihan dan sertifikasi bisa menjangkau lebih banyak sub sektor ekonomi kreatif, seiring dengan peningkatan dukungan anggaran, sehingga semakin banyak pelaku ekraf di Berau yang bisa meningkatkan kompetensi dan daya saing usahanya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#pertunjukkan seni #Disbudpar Berau #Kuliner #Keterbatasan Anggaran #budaya