SORE kemarin ke SCP. Naik mobil berbayar. Sore-sore. Sendirian. Tujuannya ke mal. Padahal sasarannya ke Warung Jenggo.
Pian dari mana? Kata sopir mobil berbayar itu. Saya jawab saja jujur. Saya dari Berau, kata saya singkat
Eh malah, sang sopir bercerita panjang. Tiga tahun lalu saya ke Berau, kata sopir itu. Perjalanan ke Berau menurutnya carter mobil. Sepanjang jalan saya tidur haja, sambungnya
Dia mengaku untuk pertama kali melewati perjalanan darat yang panjang. Termasuk pertama kali ke Berau. Luar biasa yaaa, ungkapnya.
Dia tahu kalau Tanjung Redeb itu tidak terlalu luas. Itu menurut cerita teman-temannya. Begitu melihat kota kecil itu, saya langsung kagum, ungkapnya.
Kenapa kagum? Kotanya halus haja, tapi cantik, tambahnya. Itu tiga tahun lalu, kata saya. Kalau datang lagi ke sana tahun ini, akan lebih kagum lagi. Tiga tahun lalu itu dia sempat ngopi di tepi sungai.
Perjalanan hanya 15 menit. Saya minta turun bukan di pintu utama SCP. Tapi turunnya parak-parak Warung Jenggo. Tempat itu memang yang jadi tujuan.
Tidak perlu janjian. Biasanya jelang senja, ada saja warga Berau yang nongkrong di warung legend itu. Rasanya Wabup Gamalis rancak jua duduk di bangku panjang Jenggo.
Kalau menghitung waktu. Warung Jenggo ini usianya lebih dari setengah abad. Kenapa sampai namanya Jenggo. Selain makannya sambil angkat kaki sebelah, juga sering tidak jujur. Makan lima bepadah dua haja. Hehe.
Saya pesan susu jahe. Gelas besar. Panas-panas. Tidak pakai telor. Makannya? Nasi kibuli. Itu pilihan saya sejak mengenal Warung Jenggo.
Warung Jenggo itu justru membuat banyak usaha UMKM yang ikut meraih rejeki. Mereka menitipkan masakannya. Warung membantu menjualkan.
Di hadapan saya ada piring berisi sate ati ampul. Ada sate telur puyuh. Ada juga sate usus. Ada telur berkuah.
Sate ati ampul itu sebutan untuk paru sapi. Dipotong-potong kecil, lalu disate. Sepertinya tidak dibakar tapi digoreng.
Tusuk sate itu jadi petunjuk berapa yang dinikmati. Tusuk satenya disimpan di samping nasi kebuli. Jangan dibuang ke lantai.
Nasi kebuli dan sate ati ampul jadi pasangan yang kompak. Keasyikan tidak terasa habis lima cucuk.
Karena sendirian, tidak ada teman ngobrol. Andai jumpa kawalan dari Berau bisa lebih banyak lagi ati ampul yang dinikmati bersama nasi kebuli. (sam)
@daengsikra.id