LOKASI tak selalu jadi penentu. Tak mesti di tempat strategis yang mudah dilihat orang. Terselip di belakang bangunan pun tak masalah. Tetap jadi tempat berkunjung warga.
Warung Pojok di Tanjung Redeb itu mudah dijangkau. Tepi jalan. Dekat penjual emas. Sebaliknya ada tempat nongkrong di Samarinda yang mesti “bekikihan” bagi yang baru pertama kali.
Buka google map aja om, kata ponakan saya. Sudah saya temukan. Tapi alamat jelasnya disebutkan daerah pelabuhan.
Akhirnya ketemu juga. Lokasi di Jalan Imam Bonjol. Tidak terlihat dari tepi jalan. Masuk jalan kecil. Di belakang roti Holland. Di situ tempatnya warung 11-1. Ngalih bujur dicari.
Pesan apa? Kata saya. Ada kawal yang mendangani. Saya pesan bubur ayam. Dia pesan nasi kuning lauk dagingmu
Bayangkan, kata kawal saya itu, wadah nang tersembunyi aja didatangi urang . Saya pun memperhatikan para pengunjungnya. Berbaju putih dengan logo provinsi dan Kota Samarinda.
Hehehe, jadi ingat imbauan Sekkab Berau, larangan ke warkop pada jam kerja.
Tamu terus berdatangan. Ada sahabat saya yang lama tidak jumpa. Namanya Gazaluli.
Di Berau dulu kerja di kantor kehutanan. Dia sekarang promosi eselon tiga di provinsi.
Apa kabar kawalan Daeng di Berau? Tanyanya. Baik-baik, jawab saya. Kami ceritalah situasi terkini. Di mana tempatnya bekerja tak lagi primadona. Ngalih sudah Daeng di situasi sekarang ini, ungkapnya.
Dia juga menyebut kalau dua tahun dia lagi akan pensiun. Moga-moga tak ada masalah sama di ujung masa kerja, katanya dengan nada rendah.
Dia pindah meja. Bersama teman-teman kantornya. Saya pun pamit pulang. Teman yang menjemput, dapat panggilan dari bosnya. Besok-besok kita kesini lagi. Ke 11-1. (sam)
@daengsikra.id