KEMARIN (5/1), Kaltim Post menjalani usianya yang ke-38 tahun. Hadir 5 Januari 1988. Tak ada perayaan meriah seperti lima tahun pertama koran harian ini hadir di Kaltim. Pun hadir di Berau yang awalnya bernama ManuntunG.
Lupa persisnya kapan purna tugas sebagai wartawan yang tugas di Berau. Banyaklah kenangan yang masih tersimpan rapi. Tumpukan foto masih terjaga dengan baik.
Termasuk kenangan bagaimana berburu dengan waktu pengiriman berita di tengah situasi teknologi masih belum sepesat sekarang.
Mengirim foto misalnya. Saya harus berbaik baik dengan Toko Medan. Yang bisa melayani pencetakan foto dengan cepat.
Dengan begitu, saya bisa cepat ke Bandara Kalimarau. Menitip dengan penumpang yang dikenal yang akan terbang ke Samarinda.
Beritanya? Bagaimana mengirimnya. Beruntung ada fasilitas faximili di kantor Telkom di Jalan Durian II. Berbayar. Hehe.
Kalau semisal penerimaan di Samarinda hasilnya kurang bagus (kabur) terpaksa pengiriman di ulang. Hehehe, bayar lagi.
Lumayan lama bertugas sebagai koresponden. Lumayan lama bertugas di lingkup Polres Berau. Seingat saya mulai Pak Titus.Itu kalau melihat deretan foto para mantan Kapolres.
Termasuk bertugas di lingkup DPRD ketika Almarhum Sutapan Parman sebagai Ketua Dewan. Sering juga diajak liputan keluar daerah.
Yang terkesan bersama Rizal Effendi meliput peresmian pabrik kertas Kiani di Mangkajang oleh Presiden Soeharto. Sangat ketat. Tak seleluasa seperti sekarang.
Juga terkesan saat dapat tugas meliput perampokan di Pulau Maratua oleh kawanan Mundu dari Filipina. Bersama almarhum Syamsuddin dan Tumondom. Menyeramkan.
Kaltim Post masih tetap hadir. Perannya didampingi Berau Post di daerah wartawannya hebat hebat. Tajam dalam melakukan investigasi.
Kemarin itu masih saling sapa dengan Syafril Teha Noor, Rusdiansyah Aras, Sumurung Silaban dan para pensiunan Kaltim Post. Selamat ulang tahun ke-38. Sukses selalu. (sam)
@daengsikra.id