JUMPA dengan kawan lama yang berlangsung di luar rencana. Seperti jumpa tak terduga di salah satu klinik di Jalan Kulintang.
Apa kabar bang? Andai saya menutup mata pun, saya hafal suara itu. Walau belasan tahun tidak pernah mendengar. Sahabat saya Sumurung Silaban
Sakit apa bang? Saya jelaskan rinci. Pun menyebut dokter yang akan saya temui. Konsul saja, kata saya.
Tak banyak yang berubah. Suaranya. Gaya sisiran rambutnya. Dan gayanya bercerita. Seperti dulu ketika kumpul di kantor Manuntung (Kaltim post).
Saya juga konsultasi dengan dokter soal sakit anak saya, kata Bang Sumurung Silaban pemilik inisial ss.
Lalu berceritalah kami. Cerita yang dulu–dulu . Cerita bagaimana berkejaran dengan sumber berita.
Saat bertugas dulu, beberapa kali ikut perjalanan dengan pejabat Pemprov ke Berau. Liputan ekonomi.
Maunya kami bincang lama dan hampir bersamaan dapat panggilan konsul. Sebelum masuk ke ruang dokter, kami berfoto dulu. Rupanya foto itu di-up ke grup wa para wartawan. Dan mengalirlah ucapan doa.
Saya tak melihat lagi di jejeran ruang tunggu. Entah apa dia pulang duluan. Atau Konsulmya lebih lama.
Oh iya, tiga hari lalu saya berkunjung ke Warung Kopi Maju lagi. Pemiliknya sudah mulai senyum-senyum. Mungkin sudah ingat puluhan tahun silam. Siapa yang jualan coto di warungnya
Siapa yang dulu dia beri nama Frengky . Sekarang Berau ramai bujur, ujarnya. Dia baru pulang dari Berau menghadiri peresmian hotel milik Oetomo Lianto (A Liang)
Saya tinggal kan Berau sekitar tahun 1960.
Sekarang sudah tidak kenal lagi. Rumah di tepian tidak banyak berubah, makin banyak penduduknya.
Saya asyik mendengar cerita sambil menikmati roti bakar dan kopi susu. Kapan pulang ke Berau? Tanyanya. Saya hanya senyum-senyum. Selesai tahun baru, kata saya. (sam)
@daengsikra.id