BERAU POST – Potensi kelapa dalam di wilayah pesisir Kecamatan Bidukbiduk, khususnya Kampung Giring-Giring, dinilai sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan berbasis ekonomi masyarakat.
Komoditas ini tidak hanya kuat dari sisi produksi bahan baku, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke sektor industri olahan bernilai tambah.
Fasilitator Kampung Sigap Kampung Giring-Giring, Yuni Alviyani, menjelaskan bahwa karakter geografis pesisir Berau yang tropis dengan struktur tanah berpasir sangat cocok untuk pertumbuhan kelapa dalam.
Kondisi tersebut membuat tanaman kelapa mampu tumbuh optimal dan berproduksi dalam jangka panjang.
“Potensi ini bahkan telah diidentifikasi oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Berau sebagai salah satu komoditas yang layak dikembangkan secara berkelanjutan,” jelasnya belum lama ini.
Dalam proses pendampingan yang dilakukan bersama masyarakat, fokus pengembangan diarahkan pada hilirisasi produk kelapa.
Sejumlah produk telah dihasilkan, dengan sabun kelapa dalam menjadi produk unggulan utama.
Produk ini dikembangkan melalui pendampingan lintas sektor, termasuk Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Berau, dengan target pasar sektor pariwisata seperti resor dan penginapan di kawasan Bidukbiduk.
Selain sabun, kelapa dalam juga diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) yang memiliki nilai ekonomi dan kesehatan cukup tinggi.
Produksi VCO telah berjalan di beberapa kampung potensial, termasuk Giring-Giring, dengan dukungan peralatan produksi dari pemerintah daerah.
Tidak hanya itu, pemanfaatan limbah kelapa seperti sabut dan batok juga mulai didorong untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang usaha baru.
“Limbahnya juga punya nilai untuk dimanfaatkan menjadi barang turunan lainnya,” ujarnya.
Meski demikian, proses pendampingan dan produksi masih dihadapkan pada sejumlah kendala.
Dari sisi sumber daya manusia, regenerasi petani menjadi tantangan serius karena minimnya keterlibatan generasi muda.
Keterbatasan jumlah penyuluh, rendahnya partisipasi petani dalam kelembagaan, serta kendala administratif dalam penyaluran bantuan juga turut mempengaruhi efektivitas program.
Pada aspek produksi, permasalahan tanaman kelapa yang sudah tua, serangan hama, kondisi lahan, hingga manajemen pascapanen menjadi faktor yang menekan produktivitas.
Pengelolaan limbah yang belum optimal juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan jika tidak ditangani secara serius.
“Kelapa dalam harus menjadi penggerak ekonomi kampung melalui produk olahan bernilai tambah berkelanjutan,” ujarnya.
Ke depan, pendamping dan masyarakat berharap adanya dukungan berkelanjutan, baik dari sisi peremajaan tanaman, penguatan kapasitas petani, kemudahan perizinan, hingga perluasan akses pasar.
Dengan dukungan tersebut, kelapa dalam di Kampung Giring-Giring diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang berdaya saing dan menyejahterakan masyarakat. (sen/hmd)
Editor : Nurismi