SEJAK dulu, nama itu mengalami perubahan. Masih sebutannya lempeng. Bahannya pisang dicampur adonan lalu digoreng. Ada gula aren dan mentega jadi capcapannya.
Salah satu tempat minum di Kawasan Citra Niaga namanya Khong Djie, menjadikan lempeng menu utamanya.
Saat Syafril Teha Noor dan Hamdani, dua sahabat seniman saya di Samarinda menjemput, saya meraba-raba akan dibawa kemana.
Ini kami memenuhi janji, kata Hamdani. Janji menghibur setelah sedikit punya tenaga pascamenjalani perawatan rumah sakit. Saya pasrah saja.
Masih ingat rumah itu? Tanya Hamdani. Saya hanya senyum. Pemiliknya lupa, yang saya ingat tempat kita latihan teater dulu. Itu rumah Mba Wiwik, kata Hamdani.
Bertiga dalam suasana begitu , baru kali ini terulang lagi. Dulu juga sama-sama, tapi lebih banyak jalan kakinya.
Akhirnya tiba di halaman parkir wajah baru Citra Niaga. Saya memandang dari jari jauh deretan kios yang menawarkan cenderamata.
Luar biasa, Andi Harun (walikota) Samarinda yang mempercantik Citra Niaga, kata saya. Sempat lama tak terurus. Padahal ini kebanggan warga Kaltim. Peraih Aga Khan.
Di pojok itu ada Khong Djie. Tempat nongkrong yang kata Hamdani selalu penuh. Duduklah kami dekat pilar kecil. Hamdani dan Syafril kompak pesan lempeng. Saya pun turut serta.
Sambil menunggu, membayangkan seperti apa wajah lempeng pisang itu. Rupanya lempeng dulu dan lempeng sekarang sama rasanya.
Bentuknya yang beda. Hampir seukuran piring. Pisang memakai pisang raja. Pantas rasanya enak. Manis pula.
Mengangangkat lempeng jadi menu utama sungguh luar biasa. Sama dengan warung pisang gapit di Jalan Murjani III.
Makin sore pengunjung makin ramai. Lantai abu-abu di Citra Niaga dipenuhi pengunjung. Pelan-pelan menikmati lempeng dan teh tawar.
Kong Djie itu bahasa Mandarin, artinya Prameswari. Pelayan tempat minum di Citra Niaga. (sam)
@daengsikra.id