Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Retail Modern Lebih Ketat! Berau Hadapi Tantangan Berat Pemasaran Beras Lokal di Tengah Aturan HET Ketat

Beraupost • Kamis, 11 Desember 2025 | 11:15 WIB
Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan. (IZZA/BP)
Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan. (IZZA/BP)

BERAU POST - Pemerintah Kabupaten Berau tengah menghadapi tantangan terkait pemasaran beras lokal di pasar modern.

Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan, menyebut ada dilema antara harga jual petani dan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku.

“Terkait beras lokal ini memang ada dilema karena sementara ini beras lokal sudah didapatkan, karena petani lebih senang jual dalam bentuk gabah ke Bulog, harga per kilogramnya Rp6.500 untuk (Gabah Kering Panen) GKP,” ujarnya.

Ia menambahkan, beras lokal kualitas maksimum saat ini berada pada kategori medium. Harga medium sesuai HET di wilayah Kalimantan dan beberapa wilayah kategori II mencapai Rp14.000 per kilogram.

Menurut Rakhmadi, perhitungan harga gabah dengan rendemen 50 persen menghasilkan sekitar Rp13.000, belum termasuk biaya pengolahan lainnya.

“Nah itu tidak masuk dengan harga medium, di retail modern itu dijual sesuai HET,” jelasnya.

Kondisi ini membuat sebagian petani lebih memilih menjual gabah ke Bulog karena keuntungan yang lebih tinggi, meskipun secara kualitas beras tersebut cukup layak masuk pasar modern.

Ia juga menyoroti kepatuhan pedagang modern terhadap aturan HET yang lebih ketat dibanding pasar tradisional.

“Sebelumnya masuk saja sebenarnya, namun retail modern lebih ketat, sekarang kita juga mengikuti aturan HET. Di Berau dan Kaltim agak sulit,” ungkapnya.

Rakhmadi menambahkan bahwa pengecekan kondisi beras di pasar memang menemukan tempat yang benar-benar menjual sesuai HET, namun keuntungannya sangat kecil.

Untuk mengatasi tantangan ini, Dinas Pangan menekankan perlunya pembinaan berkelanjutan dari hulu ke hilir.

Rakhmadi menjelaskan, pembinaan ini meliputi pasca panen hingga pemilihan bibit unggul. Ia berharap kerja sama dengan lembaga penelitian dapat membantu menentukan jenis beras lokal yang paling sesuai dikembangkan di Berau.

“Di Jawa Barat, ada wilayah yang diteliti mengenai jenis beras yang unggul, apakah dari berat, kualitas, atau cepat panennya. Ini pemikiran pribadi saya, bisa jadi langkah ke depan untuk beras lokal Berau,” tuturnya.

Langkah-langkah ini dianggap penting untuk meningkatkan daya saing beras lokal sekaligus memberikan keuntungan lebih bagi petani.

Dengan perbaikan mutu, pemasaran yang sesuai aturan, dan pendampingan teknis, diharapkan beras lokal Berau mampu menembus pasar modern tanpa mengabaikan kepatuhan terhadap HET, sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi petani lokal. (sen/hmd)

Editor : Nurismi
#pemasaran #beras lokal #Kabupaten Berau #retail modern