Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Berjuang di Balik Ambulans: Kisah Nyata Rujukan Jarak Jauh Berau-Samarinda

Beraupost • Selasa, 9 Desember 2025 | 11:25 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

PADAHAL ada pengalaman salah seorang karyawan pertambangan yang harus dirujuk ke Balikpapan. Menggunakan ambulans rumah sakit.

Saya ingat proses itu, ketika giliran saya harus melaksanakan rujukan dokter ke RS Wahab Syahrani di Samarinda. Tak ada keluhan. Ditemani seorang perawat dan sopir dengan kategori sangat menguasai

Tak sempat lagi mengajukan macam-macam. Padahal banyak teman yang ada di RS sebelum berangkat. Ada Pak Makmur, Pak Majid, Yudi Perdana. Kalau saya usul sesuatu, pasti direspons cepat.

Mulai tidak berdaya. Pemberian dan reaksi obat, seakan tak bisa lagi mengusulkan apa apa. Dan, sore di hari Sabtu itu, meluncur dengan tenang. Diiringi banyak doa. Semangat ya Daeng, begitu suara yang sempat terdengar

Posisi berbaring di belakang sopir. Di samping ada perawat yang setiap saat mengontrol isi kantung keteter. Seno, wartawan Berau Post duduk di samping sopir tanpa suara.

Padahal saya berharap sesekali berbicara. Setidaknya menyampaikan posisi kendaraan ambulans yang tidak lagi memasang serinenya. Apa masih di wilayah Labanan atau sudah masuk Kelay.

Saat sopir tak bisa menghindari jalan berlubang, baru sadar ada yang kurang dalam perjalanan itu. Harusnya ranjang ambulans dilengkapi dengan kaus kapuk.

Disitulah derita mulai terasa. Saya tak bisa tidur. Sang perawat juga harus sigap membujurkan bantal yang ikut meluncur. Dan dia pun tidur seperti burung merpati.

Hanya membayangkan saja. Rasa-rasanya sepanjang dua jam perjalanan tak pernah melewati jalan mulus. Tidak mampir ngopi kah, Seno? Kata saya.

Tak ada jawaban. Rupanya dia juga tidur seperti burung Merpati. Dia juga setia tidak merokok.

Tak aroma asap dalam ambulans berpendingin itu. Sempat sekali terbangun, menikmati roti yang jadi bekalnya. Mau roti Daeng, katanya.

Setelah itu, tak ada suara lagi. Sayang tidak menghitung berapa kali mobil terhempas-hempas. Seperti dalam sebuah mesin pembuat popcorn tempo dulu.

Saya tidak pakai jam tangan. Tak sempat menghitung waktu perlanan. Mata saja yang terpejam. Tapi tak juga bisa terlelap.

Perawat kayaknya bukan pengalaman pertama. Jadi paham dengan segala situasi. Sesekali mobil diminta berhenti. Hehe, mau buang isi kantong kemih.

Akhirnya terdengar suara azan subuh. Perawat yang menemani minta berhenti di Puskesmas terdekat. Cairan okay tidak cukup sampai di Samarinda, katanya.

Puskesmas di jalan utama Kutai Timur tak bisa memenuhi. Dia juga kehabisan. Kalau mau ke RS KPC katanya. Bagaimana? Kita lanjut aja, kata sopir.

Tersisa hitungan jam. Belum juga tertidur. Jadi ingin perjalanan ke darat ke Samarinda, juga tak bisa tidur. Takut sopirnya layu.

Ada genangan di kawasan Alaya. Sopir terus mehajar. Dan akhirnya mogok . Menelepon bala bantuan. Dan saya pun dievakuasi di tepi jalan. Ambulans ini membawa hingga ke RS Wahab Syahrani.

Uyuhnya bos ku. Seno ketawa. Saya hanya menikmati. Berharap di pemeriksaan itu bisa teguring. Tak bisa jua, jarum suntik mulai menyucuk-nyucuk.

Sementara sang perawat sibuk membuat laporan. Juga sibuk membuat dokumen perjalanan.
Dia juga ngantuk, Seno apalagi. Dan saya segera dibawa ke ICU. Biar bisa lebih nyaman guringnya. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra