Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cuma Sakit! Haru Biru Perjalanan Rujukan 15 Jam dan Genggaman Tangan Mungil Nadia

Beraupost • Senin, 8 Desember 2025 | 10:55 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

TAK pernah ada perintah lisan dokter. Yang sempat saya dengar bisik para crew rumah sakit bagian ICU. Banyak banyak istirahat ya pak.

Sepekan pasca-perawatan saya diizinkan meninggalkan rumah sakit. Kalau bapak mau pulang ke Berau, bisa saja. Kata dokter spesialis yang menangani selama satu pekan.

Saya senang dengan kabar itu. Untuk urusan pulang nanti saja lah. Sempat ngobrol dengan Seno. Berapa lama saya harus libur catatan. Sampai ada waktu ajalah.

Saya sempat cerita ke dokter dan banyak perawat. Bahwa jarak tempuh perjalanan dengan ambulans itu hampir 15 jam. Ironis lagi, di kawasan genangan ambulans mogok.

Harus menunggu bala bantuan unit lain. Dan kebetulan yang memberi bantuan adalah relawan PWI.

Munanto sahabat saya tersenyum-senyum melihat evakuasi pasien di tengah hujan. Ini bisa nambah flu berat. Tiba di RS Abdoel Wahab Syahrani dengan ambulans lain.

Bisa dibayangkan, tidur terlentang di ambulans. Tidur tapi tidak bisa guring. Rasanya tidak pernah melewati jalan mulus. 15 jam tehampas-hampas.

Teman saya Seno, wartawan Berau Post yang ikut dalam perjalanan itu juga mengaku tak bisa tidur. Oke lah, itu mungkin risiko bagi pasien rujukan lewat perjalanan darat.

Di ruang kedatangan pasien RS. Sudah ada SOP yang dijalankan masing-masing petugas. Tak terdengar suara mempertentangkan status pasien. BPJS kah ini?

Ada banyak pasien yang baru tiba pagi itu. Dengan berbagai ekspresi. Pun dengan nada rintihan berbeda. Saya hanya sesekali menarik nafas tanpa suara

Ada SOP yang semua sudah selesai di lantai kedatangan itu. Saya sudah ditentukan siapa dokter yang menangani. Begitu pun pemasangan alat bantu suntik yang tidak lagi menyucuk burit.

Ada pemasangan alat yang sudah diingatkan seorang dokter ahli anestesi. Santai, agak sakit, kata dia

Saya melawan dengan memejamkan mata. Banyak wajah sekitar tempat tidur menyaksikan proses itu. Bujur-bujur sakit. Ada tambahan jahitan.

Saya rasakan saja. Termasuk merasakan genggaman tangan, yang seolah dialah yang merasakan sakit.

Hampir setengah jam, saya membuka mata. Mau tahu genggaman tangan siapakah gerangan.

Dan oh Tuhan. Itu tangan mungil Nadia. Anak saya. Dia tinggalkan tinggalkan aktivitas kampusnya setelah mendapat kabar.

Tangan mungil anakku itu terus menggenggam hingga ke ruang ICU. Saya diminta istirahat para perawat tahu, saya merasakan 15 jam tanpa istirahat. Perjalanan dari Tanjung Redeb.
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #pasien #perjalanan darat #Daeng Sikra