Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Angka Kekerasan di Berau Mengkhawatirkan: UPT PPA Ingatkan Tanggung Jawab Bersama Menciptakan Lingkungan Aman

Beraupost • Senin, 8 Desember 2025 | 11:10 WIB
Kepala UPT PPA Berau, Yusran. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)
Kepala UPT PPA Berau, Yusran. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)

BERAU POST  – Tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan serius Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kabupaten Berau.

Kepala UPT PPA Berau, Yusran, menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk bergerak lebih sigap.

Menurut Yusran, sepanjang tahun 2025 saja, pihaknya telah menangani sekitar 64 kasus kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak.

Jumlah tersebut dinilainya sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan bahwa kekerasan masih menjadi ancaman nyata di lingkungan sosial.

“Ini harus menjadi perhatian serius. Kasus-kasus ini tidak bisa dianggap biasa, karena dampaknya sangat besar terhadap korban,” tegasnya.

Yusran menjelaskan, setiap korban yang datang atau dilaporkan mengalami trauma, baik fisik maupun psikologis, langsung ditangani oleh tim UPT PPA.

Penanganan tersebut meliputi pendampingan psikologis, rujukan medis, hingga pemulihan sosial.

Namun, ia menegaskan bahwa upaya penanganan tidak cukup tanpa dukungan pencegahan yang kuat dari instansi terkait dan masyarakat luas.

Untuk menekan angka kekerasan, Yusran menyebut bahwa sosialisasi massif harus segera dilakukan.

Ia berencana berkoordinasi dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait serta instansi yang memiliki kewenangan mencegah terjadinya kekerasan, agar bisa turun langsung ke lapangan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat.

“UPT PPA fokus menangani korban. Pencegahan bukan di bawah tupoksi kami. Karena itu, sinergi dengan OPD dan lembaga lain sangat diperlukan agar kita bisa bekerja bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemahaman masyarakat terhadap bentuk-bentuk kekerasan, mekanisme pelaporan, serta pentingnya lingkungan aman bagi anak dan perempuan, perlu terus disosialisasikan agar kasus serupa bisa ditekan sejak dini.

Kasus kekerasan, kata Yusran, tidak boleh hanya dilihat sebagai data statistik. Di balik setiap laporan terdapat korban yang kehilangan rasa aman dan membutuhkan dukungan penuh untuk pulih.

Ia pun mengajak semua pihak mulai dari pemerintah, komunitas, tokoh masyarakat, hingga keluarga untuk lebih peduli dan berani melaporkan jika menemukan tindakan kekerasan.

“Ini tanggung jawab kita bersama. Jangan menunggu ada korban berikutnya,” pungkasnya.(aky/hmd)

Editor : Nurismi
#perempuan #perlindungan anak #Kabupaten Berau #kekerasan anak dan perempuan