Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pasokan Listrik Berau Aman, PLN Rencanakan Relokasi PLTD Bidukbiduk ke Maratua Dorong Wisata Bahari

Beraupost • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:10 WIB
BANGKITKAN PARIWISATA: Danau Labuan Cermin merupakan salah satu objek wisata andalan yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Berau. (MARNI/BP)
BANGKITKAN PARIWISATA: Danau Labuan Cermin merupakan salah satu objek wisata andalan yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Berau. (MARNI/BP)

BERAU POST – Sudah puluhan tahun perekonomian Kabupaten Berau ditopang sektor batu bara. Seiring berjalannya waktu, wilayah paling Utara Kalimantan Timur (Kaltim) ini berupaya menggantikan ketergantungan itu ke sektor pariwisata.

Namun dalam membangun sektor wisata, kebutuhan dasar seperti listrik menjadi hal utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Supaya investor yang berkecimpung di sektor wisata tidak berpikir dua kali, untuk masuk dan menggelontorkan uangnya membangun pariwisata di Bumi Batiwakkal -sebutan Kabupaten Berau. Hal itu disampaikan Anggota DPRD Berau, Sutami ketika bertemu awak media ini.

Pria yang kerap disapa Dodong itu, merupakan legislator yang berasal dari daerah pemilihan (dapil) Berau Pesisir Selatan. Sebuah daerah yang notabene banyak objek wisata seperti Danau Labuan Cermin hingga Pulau Kaniungan di Kecamatan Bidukbiduk.

“Untuk mendukung sektor pariwisata, jangan sampai tidak terpenuhi kebutuhan listriknya. Karena listrik juga jadi penentu meningkatkan pariwisata di Kabupaten Berau,” ucapnya.

Selama ini, ia selalu mendorong pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan dasar di wilayah pariwisata. Baik itu air bersih, jaringan internet hingga listrik.

Masuknya sistem kelistrikan Kaltimra Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt (kV) Maloy–Talisayan dan SUTT 150 kV Talisayan–Tanjung Redeb sejak awal November lalu pun tentu disyukurinya. Sebab, pemenuhan listrik di seluruh kecamatan yang berada di Pesisir Selatan Berau tentu akan teratasi.

“Listrik inikan kebutuhan dasar. Jadi sangat penting, supaya jangan ada lagi terjadi mati lampu terus menerus akibat tidak surplus,” imbuhnya.

“Investor juga kalau begitu tidak berpikir dua kali untuk bangun resort. Karena untuk persoalan listrik, saya rasa sudah sangat terpenuhi sekarang,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Berau, Zulkarnaen Tanjung mengungkapkan pertumbuhan hotel hingga homestay di Berau cukuplah signifikan.

Dari catatan pihaknya, jumlah hotel untuk wilayah perkotaan saja sudah mencapai 60 titik.

“Bahkan kalau dihitung dengan homestay atau resort yang ada di wilayah wisata, bisa mencapai 300 lebih,” ungkapnya.

Besarnya pertumbuhan perhotelan itu dinilainya tak terlepas dari potensi pariwisata yang ada di Berau. Hingga saat ini, rata-rata okupansi setiap hotel mencapai 40 persen dari jumlah kamar yang dimiliki. “Bahkan bisa mencapai 100 persen saat ada event besar atau saat musim liburan,” tuturnya.

Terpisah, General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli menyebut keberhasilan interkoneksinya Sistem Mahakam di Berau menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Ia mengungkapkan, hingga September lalu, PLN UID Kaltimra telah melayani 1.653.860 pelanggan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Dengan total ketersediaan daya pada sistem kelistrikan Kaltim-Kaltara saat ini mencapai 1.485,51 megawatt (MW), serta beban puncak sebesar 995,82 MW. Sehingga terdapat cadangan daya sebesar 477,08 MW.

“Ini menjadi fondasi penting untuk mendukung pengembangan kawasan industri, logistik, serta aktivitas ekonomi di pesisir Timur Kalimantan,” ujar Chaliq.

Dengan interkoneksinya sistem kelistrikan Mahakam ini, maka pasokan listrik di Berau pun sudah terbilang aman. Pasalnya, selama ini sistem kelistrikan di Berau bisa dibilang pas-pasan. Bahkan acap kali dibantu pasokan listrik dari Kalimantan Utara.

“Beban puncak di Berau ini pernah sekitar 45 sampai 46 MW. Sementara daya listrik dari pembangkit di Berau berkisar 30 sampai 40 MW. Makanya dibantu sekitar 5 MW dari sistem kelistrikan Tanjung Selor,” ungkap Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tanjung Redeb, Clif Salomo Panjaitan kepada awak media ini.

Disampaikan Clif, sebelum masuknya sistem kelistrikan Mahakam, pasokan listrik di Berau ditopang dari tiga pembangkit. Yakni Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lati, PLTU Berau dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sambaliung.

Besarnya cadangan daya listrik dari sistem Mahakam, diyakini mampu membantu upaya Pemkab Berau memajukan sektor pariwisata. Apalagi pesatnya pembangunan resort, hotel hingga kafe di wilayah-wilayah objek wisata.

Clif mencontohkan salah satu hotel bintang yang baru beroperasi di Tanjung Redeb. Manajemen perhotelan diungkapkannya berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihaknya, perihal kesanggupan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik hotel.

“Kalau industri-industri ini besar juga permintaan pasokan listriknya. Salah satunya hotel baru itu, sekitar 500 sampai 1,1 MW kebutuhan listriknya,” ujarnya.

Perihal wilayah Pesisir Selatan Berau, dirinya juga memastikan pasokan listrik di wilayah tersebut aman karena adanya sistem Mahakam. Namun untuk wilayah Kecamatan Bidukbiduk, pihaknya tengah membangun jaringan SUTT 50 kV ke wilayah tersebut dari Kecamatan Talisayan.

“Di Bidukbiduk itu sebenarnya sudah ada PLTD. Tapi rencananya akan kami relokasi. Usulannya ke Pulau Maratua, karena di sana juga daerah pariwisata,” katanya.

Sementara itu, saat Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Pariwisata beberapa waktu lalu, Bupati Berau, Sri Juniarsih telah menekankan bahwa pariwisata bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi juga cerminan jati diri daerah.

“Keindahan alam Kabupaten Berau sudah luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengelola agar memberikan kenyamanan sekaligus meningkatkan daya tarik wisatawan,” ucapnya.

Ia menekankan Kabupaten Berau merupakan salah satu mitra Ibu Kota Negara (IKN) dengan keunggulan pariwisatanya. Dengan memiliki 18 Desa wisata dan 225 Destinasi wisata, terdiri dari 159 wisata alam, 39 wisata budaya, dan 27 wisata buatan.

“Kita memerlukan kolaborasi dan inovasi, supaya menjadikan Berau sebagai destinasi unggulan dunia yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.



Pasokan Listrik Surplus, Ciptakan Ekosistem untuk Kendaraan Listrik

Masuknya Sistem Mahakam ke Kabupaten Berau menjadi angin segar bagi masyarakat. Pemadaman bergilir yang kerap terjadi ketika muncul permasalahan hingga perawatan mesin pembangkit, kini mulai teratasi.

Selama puluhan tahun, pasokan listrik di Bumi Batiwakkal telah ditopang PLTU Lati yang memiliki kapasitas pembangkit 3x7 MW. Besarnya ketergantungan terhadap pasokan listrik dari PLTU Lati, dibuktikan dengan pemadaman bergilir yang harus dilakukan PLN.

“Seperti kejadian akhir September lalu, sempat ada pemadaman karena ada pemeliharaan di PLTU Lati dan PLTU Berau,” ungkapnya.

Sejatinya, terbatasnya pasokan listrik dari tiga pembangkit utama di Berau sudah mulai terbantukan dengan masuknya Sistem Kayan Kaltara. Namun, kondisi itu belum mampu memecahkan persoalan kelistrikan yang terjadi Berau.

Karena itu, Clif mengakui pihaknya sangat berharap pembangunan SUTT 150 kV dari Sistem Mahakam yang menuju Berau cepat selesai. Sebab, pasokan listrik dari sistem tersebut akan menjadi “kunci” mengatasi persoalan yang ada.

“Makanya sekarang untuk suplai listrik di Berau, kami sudah tenang dengan masuknya Sistem Mahakam,” ungkapnya.

“Tapi yang jadi pekerjaan rumah saat ini, tinggal memastikan keandalan jaringan-jaringan yang ada,” sambung Clif.

Di sisi lain, pertumbuhan kebutuhan listrik juga disebutnya cukuplah tinggi. Dalam satu bulan, terdapat 300 hingga 500 permohonan pemasangan listrik baru di Berau. Belum lagi permohonan tambah daya yang juga mencapai ratusan setiap bulannya.

Besarnya potensi kebutuhan listrik di Berau, diyakininya akan terus bertambah setiap tahunnya. Beban puncak yang mencapai 46 MW hingga saat ini, diyakini bisa bertambah hingga 50 MW sampai semester pertama tahun depan.

Prediksi itu disampaikannya bukan tanpa alasan. Banyaknya investasi yang masuk dan pembangunan sejumlah infrastruktur seperti di sektor kesehatan, akan membutuhkan pasokan listrik yang cukup besar nantinya.

“Kan ada rumah sakit baru itu yang nanti akan beroperasi. Itu pasti butuh pasokan listrik besar. Begitu juga Gedung Walet di RSUD dr Abdul Rivai, sudah ada permintaan sekitar 0,5 MW,” tuturnya.

Selain memastikan kebutuhan listrik masyarakat terpenuhi, PLN juga dipastikan Clif berusaha membantu menciptakan ekosistem kendaraan listrik di Berau. Hal itu dibuktikan dengan adanya tiga Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Berau. Dua di area Kantor PLN Berau dan satu di area Hotel SM Tower.

Keberadaan SPKLU itu, dikatakannya bertujuan agar memudahkan masyarakat yang memiliki kendaraan listrik untuk melakukan pengisian daya.

“Di jalanan saya perhatikan terus bertambah mobil-mobil listrik yang ada. Meski jumlahnya memang tidak sebanyak di kota-kota besar, yang pasti untuk pengisiannya di Berau sudah ada,” pungkasnya.(arp/hmd)

Editor : Nurismi
#pariwisata #Kabupaten Berau #pasokan listrik